Dari limbah menjadi berkah, inovasi inilah yang dilakukan petani kopi Kamojang dengan memanfaatkan uap buangan dari steam trap panas bumi sebagai sumber panas alternatif untuk pengolahan kopi. Bahkan inovasi ini telah memperoleh paten dan menjadi teknologi pertama di dunia. Ya, Kopi Arabika Kamojang. popularitasnya mungkin kalah dibanding kopi Arabica lainnya seperti Ijen atau Gayo, namun jika sudah pernah menikmatinya, pasti akan kecanduan.
Dibalik secangkir kopi Arabika Kamojang tidak hanya meninggalkan aroma dan rasa tetapi ada cerita yang jauh lebih panjang, yakni tentang panas bumi dari perut Gunung Kamojang. Dimana petani yang menggantungkan hidup dari kebun kopi, dan sebuah upaya mengubah energi bersih menjadi nilai ekonomi.
Dahulu sebelum ditanami kopi, tanah di kawasan hutan Kamojang sempat mengalami erosi parah hingga hanyut ke aliran sungai dan memicu sedimentasi. Bahkan kerusakan kawasan Kamojang di masa lalu juga pernah memicu bencana alam seperti banjir bandang dan memakan korban jiwa. Namun, berkat ditanami kopi, kini tidak ada lagi erosi yang mencemari sungai, bahkan aktivitas penambangan pasir pun otomatis berhenti. Pasalnya, tanah dari hutan nggak turun lagi karena ketahan akar kopi.
Di balik geliat kehidupan masyarakat yang bergantung bertani kopi juga dihadapkan berbagai tantangan yang menghambat peningkatan produktivitas dan pendapatan. Proses pengeringan kopi yang lambat dan rentan gagal, terutama di musim hujan, membuat kualitas hasil panen menurun dan harga jual tidak optimal. Ketergantungan pada pupuk kimia yang mahal serta limbah pertanian yang tidak termanfaatkan semakin menambah beban.
Di tengah keterbatasan tersebut, Kamojang memiliki keunggulan yang tak dimiliki banyak daerah yaitu kekayaan panas bumi. Kawasan ini merupakan lokasi Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) pertama di Indonesia dan menyimpan potensi energi yang besar. Energi ini tak hanya menjadi sumber listrik nasional, tetapi juga bisa dimanfaatkan secara langsung (direct use) yakni pemanfaatan uap panas untuk mendukung kegiatan produktif masyarakat seperti pertanian dan pengelolaan limbah.
Langkah inilah yang dilakukan para petani lokal di Kecamatan Samarang dengan memanfaatkan sisa uap panas bumi atau geotermal untuk menjemur kopi. Penggunaan energi terbarukan ini membuat proses pengeringan jauh lebih stabil dan higienis dibandingkan mengandalkan sinar matahari yang tidak pasti. Biji kopi tidak lagi berisiko terserang jamur akibat kelembapan tinggi. Hal inipun diakui Muhammad Ramdhan Reza Nurfadilah, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Mang Deden, pelopor yang menghadirkan inovasi tersebut.
Sejak tahun 2023, Deden bersama para pelaku usaha lokal memanfaatkan kekayaan alam kampung halamannya dengan dukungan dari PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE) (PGEO), yang telah beroperasi di Kamojang sejak 1983.
Sebelum mencetuskan inovasi kopi panas bumi, Deden telah menjalankan usaha kopi sejak 2015, termasuk mengelola kedai kopi sendiri. Tak hanya itu, Deden pun turut aktif menjadi Ketua Karang Taruna Kecamatan Ibun, Bandung, sehingga kedainya sering menjadi tempat berkumpul warga dan pekerja PGE untuk bersantai dan berbagi cerita. Sejak menjalin hubungan baik dengan karyawan PGE Area Kamojang, Deden kerap terlibat dalam obrolan santai seputar kopi. Obrolan itu pun berkembang menjadi gagasan nyata ketika PGE menyampaikan keinginan memulai program pembinaan kopi, yang disambut Deden dengan antusias.”Waktu itu saya anggap ide tersebut menjadi tantangan. Saya melihat potensi panas bumi sebagai peluang untuk menjadi solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi para produsen kopi konvensional,” jelasnya.
Lahirnya Kopi Panas Bumi
Bersama PGE, Deden melakukan riset intensif untuk menemukan teknik fermentasi yang paling sesuai dengan karakter panas bumi dalam pengolahan kopi. “Saya melakukan riset fermentasi selama hampir setahun. Dari lebih dari 20 jenis proses yang dicoba, akhirnya kami menemukan tiga metode yang paling sesuai dengan karakter pengeringan,” ungkapnya.
Setelah itu, Deden mulai memproduksi kopi dari biji Arabika yang tumbuh di dataran tinggi Kamojang, sekitar 1.500 meter di atas permukaan laut. Dirinya kemudian mengajak pelaku usaha kopi setempat untuk membangun ekosistem bisnis yang lebih efisien lewat teknologi ‘Geothermal Dry House’, yang memanfaatkan steam trap panas bumi dari PGE sebagai pengganti sinar matahari untuk proses pengeringan yang lebih stabil, higienis, dan berkualitas.
Secara bisnis, teknologi ini unggul karena mempercepat waktu pengeringan hingga tiga kali lipat, sehingga efisiensinya bisa mencapai 300%. Alhasil, biaya operasional lebih hemat dan kapasitas produksi meningkat tanpa menambah waktu atau biaya.”Hal ini juga meminimalkan risiko kontaminasi bakteri dari luar. Dengan begitu, bakteri yang berpengaruh terhadap proses hanya berasal dari fermentasi sebelum pengeringan. Dari sisi cita rasa, hasil akhirnya jadi lebih fruity, aromanya lebih kuat, dan teksturnya pun terasa lebih lembut dibandingkan kopi yang diproses secara konvensional,” terang dia.
Saat ini, Deden memimpin Geothermal Coffee Process (GCP) dan berkolaborasi dengan PGE untuk memberdayakan petani kopi di Kamojang. GCP mengolah biji kopi pascapanen hingga menghasilkan green bean, bermitra dengan 80+ petani dan menyerap 20 ton kopi pada musim lalu. Ke depan, Deden menargetkan GCP menjadi usaha terintegrasi yang memberi dampak sosial dan ekonomi lebih luas bagi komunitas.
Pada tahun pertama peluncuran, Deden mengatakan ada pihak dari luar negeri yang tertarik untuk meniru sistem ini. “Kami merasa penting untuk segera mematenkannya. Dari pada konsep ini diadopsi pihak luar terlebih dahulu, lebih baik kita kembangkan di dalam negeri. Kami ingin agar masyarakat Indonesia, khususnya di daerah penghasil kopi yang dekat dengan sumber panas bumi, bisa lebih dulu menerapkan konsep serupa,” harap Deden.
Inilah yang mendorong semangat Deden untuk mengenalkan kopi panas bumi sebagai inovasi asli Indonesia ke tingkat global. Usaha tersebut membuahkan hasil, karena GCP berhasil menembus pasar internasional dengan mulai mengekspor produknya ke Jepang. Tahun ini, mereka bahkan menargetkan perluasan ekspor ke wilayah Eropa.”Sejak awal, teman-teman di PGE Kamojang selalu percaya dan memberi semangat agar saya terus mencoba hal-hal baru. Kolaborasi ini bukan cuma soal melahirkan kopi panas bumi pertama di dunia, tapi juga jadi pintu bagi kami, pelaku usaha lokal, untuk berkembang, belajar, dan bermimpi lebih besar. Kami makin merasakan manfaat panas bumi, bukan cuma sebagai sumber listrik di rumah, tapi juga sebagai pintu yang membuka peluang hidup lebih baik lagi,” kata dia.
Sementara Direktur Utama PT Pertamina Geothermal Energy Tbk, Ahmad Yani mengatakan, pemanfaatan panas bumi harus mampu menciptakan nilai tambah bagi masyarakat di sekitar wilayah operasi.“Melalui inovasi seperti Geothermal Coffee Process, kami ingin menunjukkan bahwa energi panas bumi tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga dapat dimanfaatkan secara langsung untuk meningkatkan nilai tambah komoditas lokal,” ujarnya.
Dirinya juga menambahkan, energi bersih, seperti panas bumi harus menyentuh kehidupan masyarakat secara langsung, bukan hanya lewat listrik tapi juga lewat manfaat ekonomi dan sosial yang nyata. “Inovasi kami di Kamojang, khususnya dalam hal produksi kopi, membuktikan bahwa pemanfaatan energi bisa memperkuat ketahanan pangan, memperluas peluang usaha dan mengangkat martabat petani, sambil tetap menjaga lingkungan.”tandasnya.
Selain pengembangan kopi, PGE Kamojang juga menjalankan berbagai program pemberdayaan masyarakat melalui KANYAAH (Kamojang Agri-Aquaculture Energized by Geothermal). Program ini mencakup berbagai inisiatif berbasis pemanfaatan langsung panas bumi, mulai dari pemanfaatan panas bumi untuk perikanan (Geothermal Fishery), budidaya pertanian (Geothermal Farming), pengolahan pascapanen (Geothermal Food), hingga produksi pupuk organik ramah lingkungan (GeO-Fert).
PGE juga menjalankan berbagai program pelestarian lingkungan, termasuk konservasi Elang Jawa melalui Pusat Konservasi Elang Kamojang (PKEK). Atas komitmennya dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan memberdayakan masyarakat, PGE Area Kamojang menjadi satu-satunya unit panas bumi di Indonesia yang berhasil meraih 15 penghargaan PROPER Emas berturut-turut.
Melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat yang dijalankan, PGE Area Kamojang telah menjangkau sekitar 15 ribu penerima manfaat di sektor ekonomi, sosial, dan lingkungan. Capaian tersebut mencerminkan komitmen perusahaan untuk memastikan bahwa pengembangan panas bumi tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kelestarian lingkungan di sekitar wilayah operasi.



































