NERACAONLINE – PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH) mulai membidik bisnis healthcare berbasis artificial intelligence (AI) untuk membuka sumber pertumbuhan pendapatan baru di luar bisnis rumah sakit konvensional. Langkah tersebut dilakukan seiring pendapatan perseroan pada semester I-2026 yang tumbuh 18,1% secara tahunan menjadi Rp32,7 miliar.
Direktur Utama RSCH Junianto mengatakan, perseroan saat ini masih melakukan penjajakan untuk menentukan penggunaan AI yang paling sesuai dengan bisnis perusahaan sekaligus memiliki prospek monetisasi.
“Kami melihat AI memiliki potensi yang cukup besar untuk dikembangkan di sektor healthcare. Saat ini kami masih dalam tahap penjajakan untuk melihat use case yang paling sesuai dengan bisnis perseroan dan memiliki potensi untuk menjadi sumber pertumbuhan pendapatan baru ke depan,” ujar Junianto.
Menurutnya, pemanfaatan AI nantinya tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional rumah sakit, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi layanan atau solusi healthcare berbasis teknologi. Sejumlah area yang dapat dikembangkan antara lain analisis data pasien, efisiensi proses administrasi, dukungan layanan medis, hingga optimalisasi operasional rumah sakit.
Untuk mempercepat pengembangan tersebut, RSCH juga membuka peluang menggandeng perusahaan teknologi asing. Kolaborasi dengan mitra global dinilai dapat menggabungkan pengalaman perseroan di industri kesehatan dengan kapabilitas teknologi yang dimiliki perusahaan teknologi.
“Kami ingin memastikan bahwa pengembangan AI ini bukan hanya mengikuti tren teknologi, tetapi benar-benar dapat memberikan manfaat secara bisnis dan pada akhirnya memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan perseroan,” lanjut Junianto.
Meski demikian, rencana tersebut masih berada dalam tahap awal. Perseroan masih mengevaluasi model bisnis, kebutuhan teknologi, serta potensi monetisasi sebelum masuk ke tahap implementasi yang lebih luas.
Pasar AI Healthcare
Peluang bisnis tersebut sejalan dengan pertumbuhan pasar AI di sektor kesehatan secara global. Berdasarkan riset Fortune Business Insights, pasar AI healthcare global diperkirakan mencapai US$56,01 miliar pada 2026 dan berpotensi menembus US$1.033,27 miliar pada 2034. Pasar tersebut diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 43,96% selama periode tersebut.
Pertumbuhan itu mencerminkan meningkatnya kebutuhan terhadap efisiensi, analisis data, otomatisasi, dan digitalisasi layanan kesehatan. Kondisi tersebut menjadi peluang bagi RSCH untuk mengembangkan sumber pendapatan baru yang tidak hanya bergantung pada bisnis rumah sakit konvensional.
Analis MNC Sekuritas Rudy Setiawan menilai penjajakan bisnis healthcare berbasis AI merupakan langkah positif bagi RSCH karena memberikan peluang pertumbuhan baru sekaligus optionality dalam jangka panjang.
“Inisiatif AI di sektor healthcare ini cukup menarik karena dapat menjadi growth driver baru bagi RSCH. Jika perseroan mampu menemukan use case yang tepat dan mengembangkan model monetisasi yang jelas, kontribusinya terhadap pertumbuhan bisnis ke depan berpotensi cukup signifikan,” ujar Rudy.
Menurut dia, apabila bisnis inti rumah sakit tetap tumbuh dan perseroan berhasil membangun lini healthcare berbasis AI, RSCH berpotensi memiliki lebih dari satu mesin pertumbuhan. “Kalau bisnis inti rumah sakit tetap tumbuh dan pada saat yang sama perseroan berhasil membangun lini healthcare berbasis AI, maka RSCH berpotensi memiliki multiple growth driver. Ini yang menurut kami menarik untuk dipantau investor,” tambahnya.
Di sisi lain, RSCH masih mengandalkan bisnis rumah sakit sebagai sumber pendapatan utama. Untuk mendongkrak kinerja tahun ini, Junianto sebelumnya menyatakan perseroan akan mengandalkan pasien BPJS Kesehatan sebagai salah satu penopang volume kunjungan maupun pendapatan.
Karena itu, pengembangan bisnis AI berpotensi menjadi bagian dari strategi diversifikasi pendapatan RSCH agar pertumbuhan perseroan ke depan tidak hanya bergantung pada okupansi tempat tidur dan skema pembiayaan BPJS.
Sebagai informasi, RSCH merupakan anak usaha grup konstruksi Wahyu Agung yang berbasis di Surabaya. Perseroan resmi melantai di Bursa Efek Indonesia melalui penawaran umum perdana saham (IPO) sebanyak 530 juta saham atau setara 20% dari modal disetor dengan harga penawaran Rp105-Rp125 per saham. Sementara itu, pada perdagangan 6 Oktober 2026, saham RSCH ditutup di level Rp575 per saham dengan kapitalisasi pasar sekitar Rp1,52 triliun.
Dengan skala bisnis yang masih relatif kecil, keberhasilan perseroan menciptakan sumber pendapatan baru berpotensi memberikan dampak signifikan terhadap profil pertumbuhan RSCH. Karena itu, realisasi bisnis AI healthcare dan peluang kerja sama dengan perusahaan teknologi global menjadi salah satu katalis yang menarik untuk dicermati investor.





































