
Kalimantan Barat, Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kawasan perbatasan perlahan menunjukkan dampak positif yang cukup signifikan. Tidak sekadar memastikan perut anak-anak terisi, inisiatif ini membawa perubahan besar pada rutinitas sekolah, mulai dari meningkatkan angka kehadiran siswa hingga menghidupkan roda ekonomi kerakyatan di daerah tersebut.
Hal ini diceritakan oleh Kepala SMP Negeri 1 Sanggau, Syafarani, di Kalimantan Barat. Ia mengungkapkan betapa meriahnya respons anak-anak saat program ini mulai disalurkan di sekolahnya pada akhir Mei lalu.
“Ketika pertama kali mobil BGN itu naik ke halaman tengah kita, anak-anak itu pada bertepuk tangan semua. Mereka itu gembira baru melihatnya,” kenang Syafarani.
Ia mencatat adanya korelasi langsung antara program makan ini dengan antusiasme belajar siswa. “Antusiasnya (siswa) untuk datang ke sekolah itu nampaknya lebih aktif. Kalau kemarin mungkin dalam satu kelas itu ada satu dua lah yang bolos, tapi akhir-akhir ini intensitas kehadiran anak itu cukup baik,” tambahnya.
Dampak ini dibenarkan langsung oleh siswi kelas 9 SMP Negeri 1 Entikong, Sanggau, Kalimantan Barat, Franciela Sherli. Bagi Sherli, ketersediaan makanan di sekolah berhasil menghilangkan rasa malas. “Kalau udah dapat MBG tuh absen saya bersih semua, enggak ada alpa. Semenjak ada MBG kayak semangat gitu. Kadang kalau malas mau ke sekolah, baru ingat ada MBG, langsung semangat lagi,” cerita Sherli antusias.
MBG memutar roda perekonomian lokal
Selain dinantikan sekolah, program ini memberikan napas lega bagi para ibu rumah tangga dan pelaku usaha lokal. Dewi Anggreni, salah satu perwakilan orang tua siswa, merasakan langsung beban kesehariannya sedikit terangkat. Di tengah kesibukan bekerja, ia tidak lagi terlalu cemas jika sesekali lupa menyiapkan bekal atau uang jajan untuk putrinya.
“Program ini sebenarnya sangat membantu karena dinilai sangat efektif untuk mendukung tumbuh kembang anak dan meningkatkan motivasi belajar,” ungkap Dewi.
Lebih jauh, Dewi menggarisbawahi efek ekonomi domino yang luar biasa dari dapur MBG bagi masyarakat Sanggau. “Untuk menggerakkan ekonomi masyarakat melalui UMKM lokal sangat terbantu. Petani yang menanam sayur, peternak, semua bisa dibantu oleh MBG ini,” tuturnya.
Bagi para siswa, penghematan ini berarti ada sisa uang yang bisa ditabung. Sherli mengakui bahwa sebelum ada MBG, uang jajannya sering kali habis tak bersisa. “Semenjak ada MBG ini, jajan pun kadang ngeluarinnya sedikit, paling beli air aja. Sisanya ditabung. Jadi bersyukur sekali sudah ada program MBG ini,” jelasnya.
Tentu saja, sebuah program berskala besar membutuhkan evaluasi yang terus-menerus. Salah satu tantangan terbesar di lapangan adalah menyesuaikan cita rasa masakan yang diatur ketat oleh ahli gizi dengan lidah anak-anak Sanggau yang terbiasa dengan bumbu tajam ala masakan rumah.
Dewi menyadari bahwa anak-anak sering kali mengharapkan rasa nendang seperti masakan rumah mereka, padahal MBG menggunakan komposisi yang terukur. “Makanan sehat itu tidak perlu tajam aromanya. Cuma karena anak-anak sudah kebiasaan yang tajam-tajam, kita harap ke depannya ahli gizi bisa memikirkan bagaimana komposisinya tetap standar sehat, tetapi rasanya pas untuk anak,” sarannya.
Untuk menjembatani hal tersebut, pihak sekolah memiliki strategi khusus agar makanan tidak mubazir dan siswa merasa dilibatkan. Syafarani memaparkan bahwa SMP Negeri 1 Sanggau menyediakan ruang aspirasi.
“Kita siapkan kotak saran, silakan anak-anak itu memberikan saran masukan, tidak usah ditulis nama. Ini secara periodik dalam waktu satu minggu kita buka untuk melihat mana yang kira-kira sesuai dengan selera, namun tetap berkoordinasi dengan tim UKS dan Puskesmas,” terangnya.
Sherli sendiri merasa masukannya sebagai siswa sangat dihargai. Saat ada masakan yang dirasa kurang pas, siswa bisa melapor kepada guru. “Kadang kalau dapat yang makanannya kurang penyedap atau keasinan, nanti dikasih tahu ke guru. Nah, nanti biar besoknya tuh udah enggak gitu lagi,” ujarnya.
Terlepas dari dinamika menu yang disajikan, masyarakat yang ditanyai responnya terhadap program MBG, sepakat bahwa rasa syukur harus dikedepankan. Program ini tidak sekadar memberi makan, melainkan mencegah siklus kurang gizi dan stunting sejak dini.
Sherli, selaku siswa penerima manfaat ini sendiri menyampaikan harapan untuk kelangsungan program ini. “Harapan saya ke depannya, program MBG ini ingin kayak menjadi investasi jangka panjang untuk mencetak generasi penerus yang sehat, cerdas, dan bebas stunting,” tutupnya.





































