Beranda Perbankan Melek Literasi Keuangan Sejak Dini, Perlindungan Krusial di Tengah Ekonomi Digital Kian Kompleks

Melek Literasi Keuangan Sejak Dini, Perlindungan Krusial di Tengah Ekonomi Digital Kian Kompleks

20
0

Pepatah bijak mengatakan, rajin pangkal pandai, hemat pangkal kaya rupanya prinsip hidup yang masih relevan saat ini dalam mewujudkan ketahanan finansial dengan mendorong literasi keuangan sejak dini. Pasalnya, mengelola  keuangan dengan bijak merupakan keterampilan hidup yang perlu dikenalkan sejak usia dini.

Melalui kebiasaan menabung dan memahami perbedaan antara kebutuhan dan keinginan, anak-anak dapat membangun fondasi untuk mengambil keputusan keuangan yang lebih bijak di masa depan.

Meskipun menurut hasil Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang menunjukkan bahwa indeks literasi keuangan masyarakat Indonesia meningkat menjadi 66,46% dibandingkan dengan tahun sebelumnya, namun penguatan edukasi keuangan tetap perlu dilakukan secara berkelanjutan kepada berbagai kelompok usia, termasuk anak-anak agar kebiasaan finansial yang sehat dapat terbentuk sejak dini.

Bagaimanapun juga tingkat penggunaan layanan keuangan di kalangan remaja Indonesia terus meningkat, tetapi belum diimbangi dengan pemahaman yang memadai. Data menunjukkan tingkat inklusi keuangan remaja telah mencapai 57,9%, sementara tingkat literasi keuangan masih berada di angka 51,7%. Hal ini dinilai penting untuk mencegah kerentanan terhadap berbagai risiko di era digital, termasuk pinjaman online ilegal dan praktik judi online.

Selain itu, di era digital saat ini yang setiap transaksi kebanyakan cashless juga terdapat tantangan baru berupa meningkatnya risiko pengeluaran impulsif yang sering kali luput dari perhatian. Hal ini sangat beralasan karena hampir semua masyarakat, tidak terkecuali anak-anak sudah terkoneksi dengan smartphone. Disamping itu,  semakin terintegrasinya pembayaran digital saat ini dalam berbagai aktivitas sehari-hari masyarakat membawa pertumbuhan pengguna.

Tengok saja, mulai dari membeli makanan dan minuman (F&B), membayar transportasi, berbelanja kebutuhan rumah tangga, hingga memenuhi kebutuhan digital seperti paket data dan layanan hiburan, transaksi non-tunai telah menjadi bagian dari rutinitas harian banyak pengguna.

Namun, ketika transaksi menjadi semakin cepat dan seamless, pengguna juga perlu semakin sadar akan kebiasaan pengeluaran mereka. Pengeluaran kecil yang rutin dilakukan kerap terasa ringan, tetapi dapat terakumulasi menjadi jumlah yang signifikan jika tidak dipantau dengan baik.

Kata Melvin Mumpuni, Certified Financial Planner sekaligus Founder Finansialku, gaya hidup cashless bukan sesuatu yang perlu dihindari, melainkan perlu diimbangi dengan kebiasaan finansial yang sehat.“Cashless lifestyle bisa sangat membantu jika digunakan dengan sadar. Yang penting, pengguna perlu rutin mengecek histori transaksi, membatasi budget harian, serta membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebiasaan sederhana ini dapat membantu menjaga pengeluaran tetap terkendali meskipun transaksi kini semakin mudah dilakukan,” ujar Melvin.

Salah satu cara sederhana yang dapat dilakukan pengguna adalah meninjau kembali riwayat transaksinya secara berkala. Disampaikannya, pengguna dapat melihat kembali ke mana uang mereka digunakan, memahami kategori pengeluaran yang paling sering muncul, serta mengevaluasi kebiasaan finansial mereka secara lebih objektif.

 

Aspek Jangka Panjang

Hal senada juga disampaikan Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal, kecakapan dalam penggunaan teknologi digital pada anak muda saat ini perlu dibarengi dengan literasi keuangan digital yang mengedepankan aspek jangka panjang.

Dirinya melihat, pada generasi Z dan generasi Alpha memiliki keunggulan dalam teknologi digital, termasuk dalam aspek keuangan. Namun, di balik tingginya literasi digital tersebut, kedua generasi ini masih menghadapi tantangan dalam mengelola keuangan akibat pola konsumsi yang cenderung lebih mengutamakan kebutuhan sekunder dan tersier.”Kalau saya melihat ya seringkali beda prioritas dalam hal konsumsi, atau seringkali justru hal-hal yang lebih ke sekunder, tersier dibandingkan yang lebih primer kecuali makanan,” ujarnya.

Dirinya menilai, kemudahan akses terhadap teknologi dan layanan keuangan digital belum sepenuhnya diimbangi dengan kemampuan menentukan prioritas keuangan jangka panjang. Pola konsumsi yang berbeda pada generasi muda seringkali dipengaruhi oleh media sosial yang mendorong generasi muda menjadi lebih konsumtif demi mendapatkan pengakuan atau dianggap lebih eksis di dunia maya.

Menurutnya, kesadaran generasi muda dalam mengelola keuangan masih perlu ditingkatkan dan mulai memikirkan prioritas untuk konsumsi jangka panjang seperti kepemilikan rumah. Selain itu, dia menekankan kemampuan menyusun prioritas pengeluaran dan merencanakan keuangan sejak dini dinilai menjadi bekal penting untuk menciptakan ketahanan finansial di masa depan.

Berangkat dari upaya mendorong literasi dan perencanaan keuangan sejak dini, Bank Jakarta bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menghadirkan program Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR) 2026. Dimana kegiatan ini dinilai mampu meningkatkan pemahaman pelajar mengenai pentingnya literasi keuangan sekaligus membangun kebiasaan menabung sejak usia dini.

Direktur Utama Bank Jakarta, Agus H. Widodo mengatakan, literasi keuangan bukan sekadar keterampilan teknis, ini adalah mekanisme perlindungan yang krusial bagi remaja di tengah ekonomi digital yang kian kompleks. Melalui program KEJAR merupakan upaya Bank Jakarta untuk senantiasa relevan dengan generasi muda di Jakarta dalam meningkatkan literasi keuangan. “Generasi muda Jakarta merupakan agen perubahan yang mampu menggabungkan tradisi dan modernitas. Maka dengan KEJAR sebagai dukungan literasi keuangan sejak dini adalah kunci dalam membentuk masa depan keuangan yang kuat, dan kami berkomitmen untuk mendukung masyarakat, khususnya pelajar, dalam mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang produk-produk keuangan sehingga dapat membantu menciptakan generasi yang lebih cerdas secara finansial,”ujarnya.

Salah satu siswi kelas XI SMAN 28 Jakarta, Zahwa Azalea Reza menyambut baik program KEJAR dan mengatakan, program tersebut memberikan wawasan baru tentang pengelolaan keuangan yang lebih bijak bagi kalangan pelajar.“Program ini sangat membantu kami memahami pentingnya menabung dan mengatur pengeluaran sejak sekarang. Dengan begitu, kami bisa belajar lebih disiplin dalam menggunakan uang,”ungkapnya.

Zahwa menambahkan, melalui program tersebut para siswa juga mendapat pemahaman lebih luas mengenai manfaat layanan perbankan. Selama ini, dirinya menganggap menabung hanya sebatas menyimpan uang di bank, padahal terdapat berbagai program dan fasilitas yang dapat dimanfaatkan pelajar.“Awalnya saya pikir menabung hanya menyimpan uang saja, ternyata ada banyak program dari bank yang bisa dimanfaatkan pelajar seperti kami,” katanya.

Hal yang sama juga disampaikan siswa kelas XI SMAN 28 Jakarta, Musthafa Ahmad Hermana. Dirinya menilai, program KEJAR DKI Jakarta menjadi pengalaman edukatif yang menarik karena dikemas secara interaktif dan mudah dipahami.“Menurut saya kegiatan ini sangat bermanfaat karena mengajarkan cara mengelola uang dengan baik dan pentingnya memiliki tabungan untuk masa depan,” ujar Musthafa.

Dia juga mengapresiasi kolaborasi antara Bank Jakarta dan OJK yang menghadirkan edukasi keuangan langsung ke lingkungan sekolah. Langkah tersebut dinilai mampu mendekatkan pelajar dengan dunia perbankan dan layanan jasa keuangan.

Program KEJAR DKI Jakarta sendiri merupakan bagian dari upaya memperkuat budaya menabung di kalangan pelajar sekaligus meningkatkan literasi dan inklusi keuangan generasi muda melalui sinergi pemerintah daerah, industri perbankan, dan regulator jasa keuangan. Sebagai bank milik Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Bank Jakarta juga aktif menyalurkan bantuan sosial sektor pendidikan seperti KJP Plus dan KJMU.

Hingga April 2026, Bank Jakarta tercatat mengelola lebih dari 2,4 juta rekening pelajar dengan total simpanan mencapai Rp1,81 triliun yang berasal dari Tabungan Pelajar, SimPEL, dan KJP Plus. Maka atas implementasi program tersebut, Bank Jakarta juga meraih penghargaan sebagai bank dengan implementasi KEJAR terbaik kategori Bank Pembangunan Daerah pada 2025.

Dukung dalam meningkatkan literasi keuangan anak muda juga dilakukan Bank Jakarta pada puncak Abang None Jakarta 2025. Perseroan melihat potensi luar biasa bagi Abang None sebagai representasi generasi muda yang siap membawa pesan penting tentang literasi dan iklusi keuangan. Ya, dengan pemahaman finansial yang baik, generasi muda dengan jumlah yang banyak dan beragam, diharapkan dapat semakin mandiri, kreatif, dan berdaya saing dalam menghadapi tantangan global.

Dukungan Bank Jakarta dalam mendorong literasi keuangan, khususnya generasi muda dengan memanfaatkan momentum kegiatan pasar malam di Hutan Kota GBK dengan memperluas edukasi finansial melalui kegiatan yang dekat dengan keseharian warga. Melalui kehadiran sebagai official payment system di Pasar Malem, Bank Jakarta ingin memperluas pengalaman masyarakat terhadap layanan keuangan digital yang mudah, cepat, dan aman.

Agus menilai, kegiatan itu menjadi contoh nyata literasi keuangan dapat ditingkatkan melalui aktivitas yang menghibur dan partisipatif. Dia menambahkan, langkah itu dilakukan sejalan dengan komitmen Bank Jakarta dalam memperkuat sinergi ekosistem digital di ibu kota. ”Keterlibatan Bank Jakarta turut membuka peluang bisnis potensial termasuk dengan sektor UMKM maupun generasi muda, seiring dengan semangat baru Bank Jakarta sebagai bank yang modern dan siap menuju kancah nasional,” ujar Agus.

Artikulli paraprakNegara Asia Waspadai Produk Minyak Taiwan yang Mengandung Zat Karsinogenik
Artikulli tjetërApresiasi Bank Mega Syariah, Serahkan Grand Prize Voucher Haji Khusus Senilai Rp245 Juta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini