Beranda UMKM Sukses Usaha Tongseng dari Gerobak Hingga Gerai Sendiri

Sukses Usaha Tongseng dari Gerobak Hingga Gerai Sendiri

25
0

Pepatah bijak bilang, dimana ada kemauan di situ ada jalan. Prinsip inilah yang dipegang Nardi (49), pedagang tongseng asal Boyolali Jawa Tengah yang sukses membuka usaha sendiri dari awal berjualan menggunakan gerobak hingga memiliki gerai sendiri di Tangerang. Merantau ke Jakarta, bapak dua anak ini memiliki segudang impian merubah nasib untuk keluarga dan pekerjaan awalnya bekerja sama orang yang menjadi cikal bakal modalnya membuka usaha warung makan Sate Solo Pak Adi yang terkenal akan tongsengnya.

Puluhan tahun bekerja sama orang berdagang tongseng, rupanya Nardi muda kala itu sudah melahap ilmu membuat tongseng, mulai dari menu, bumbu, bahan baku hingga racikan membuat tongseng. Di tahun 1998, menjadi moment Nardi untuk naik kelas dengan beranikan diri keluar zona aman untuk berhenti bekerja dan memulai usaha mandiri berdagang tongseng bersama teman satu kampung.”Bersama teman saya, kita berdua berhenti bekerja sama orang dan sepakat bikin usaha tongseng sendiri dengan modal bersama,”katanya kepada Neraca.

Kala itu, usahanya dimulai dari gerobak tongseng yang mangkal di Kelapa Gading Jakarta Utara. Dalam perjalanannya memulai usaha sendiri tidaklah mudah dan menemui berbagai kendala, diantaranya pengalaman pahit usahanya kejar kejaran dengan satpol PP Jakarta lantaran lapak gerobak dinilai menggangu ketertiban. Padahal kala itu, disampaikan Nardi, pelanggan lagi ramai-ramainya,”Saat pelanggan lagi menyantap tongseng, dibuat panik karena gerobak dagangan kita disita petugas,”ungkapnya.

Hambatan lainnya, krisis ekonomi yang berujung aksi kerusuhan di tahun 1998 membuat usahanya yang telah dirintis harus gulung tikar lantaran menjadi korban kerusuhan. Sejak saat itu, usaha join bersama dengan temannya bubar. Apalagi, pasca kerusuhaan mitra bisnisnya juga sudah bekerja dengan orang lain. “Di saat teman sudah bekerja sama orang, saya masih mencoba usaha tongseng dari nol dengan modal usaha diawal Rp5 juta dan dukungan dari saudara,”ceritanya.

Diakuinya, kembali memulai usaha dari awal menjadi tantangan sendiri ditambah lokasinya berpindah tempat ke Parung Serab Tangerang Selatan di 2002 masih belum ramai seperti saat ini. Belum banyak pembeli dan masih sepi pelanggan.”Wah susah mas buka usaha disini pada awalnya, susah pelanggan. Selama tiga tahun, penjualan masih buat nutup bayar kontrakan warung,”tuturnya.

Namun berkat keteguhan dan pantang menyerah, masa sulit tersebut berhasil dilalui dan kini usaha tongsengnya sudah memiliki banyak pelanggan. Alhasil, usaha warung tongsengnya berhasil mengantongi omset jutaan perharinya.

Dibalik maju usahanya, disampaikan Nardi, ada peran Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang percaya mensuport usahanya dengan memberikan akses pinjaman Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari pinjaman modal awal sebesar Rp25 juta, lalu bertambah lagi Rp50 juta hingga akhir meningkat jadi Rp75 juta.”Dukungan BRI memberikan dampak bagi usaha saya hingga saat ini. Apalagi, dari semua pinjaman tersebut sudah saya lunasi,”ujarnya.

Tak sekedar pinjaman modal, BRI juga memberikan pendampingan agar usahanya bisa naik kelas.

Menuai Hasil

Geliat usaha warung tongsengnya membuat kehidupan Nardi naik kelas, dimana dirinya berhasil membangun rumah di kampung halaman hingga membeli kontrakan di Tangerang yang tak jauh dari warung tongsengnya. Tak hanya itu, menjadi kebanggaan sendiri bisa menyekolahkan anaknya hingga ke perguruan tinggi. Meski warungnya ramai pembeli dan pelanggan, Nardi belum berniat untuk menambah cabang baru. Alasannya, sederhana karena belum semua orang merasakan rasa yang sama dari tangan yang beda.”Belum berniat buka cabang karena khawatir rasanya beda. Jadi selama ini, saya hanya dibantu istri saja,”tandasnya.

Soal pemasaran, lanjutnya masih pakai cara konvensional dari mulut ke mulut pelanggan yang puas akan sajiannya dan belum berniat masuk ke starup pesan antar makanan, seperti Gofood. Keterbatasan tenaga dan lokasi yang tak memadai menjadi alasannya.

Beroperasi mulai dari jam 9 pagi hingga jam 9 malam, warung tongseng Nardi menjaga betul rasa dan kualitas rasa daging yang segar. Maka tak ayal, pelanggan yang pertama kali datang akan kembali lagi karena ketagihan rasanya dan soal harga cukup  kompetitif dari Rp25 ribu hingga Rp 42 ribu.

Althaf (24), warga negara Malaysia yang bekerja di Indonesia ini mengakui, ketagihan menyantap tongseng Nardi untuk kedua kalinya,”Kemarin saya beli disini, hari ini saya beli lagi karena rasanya yang sedap. Bila di Malaysia ada kari, disini dikenal tongsengnya,”tuturnya.

Soal harga, kata Althaf, tidak jadi masalah. Bahkan menurutnya, rasanya yang khas membuatnya merekomendasikan teman-temannya di Malaysia saat berkunjung ke Indonesia bisa mencoba warung tongseng Nardi.

Asal tahu saja, warung tongseng Nardi menjadi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang berperan penting menjadi motor penggerak ekonomi yang keberdaannya harus disuport. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah UMKM di Tanah Air telah mencapai sekitar 59 juta unit usaha. Data tersebut menjadi salah satu dasar penting dalam penguatan kebijakan ekonomi nasional berbasis sektor UMKM.

Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti menyampaikan, dari total tersebut, sekitar 30,2 juta merupakan UMKM non-pertanian berdasarkan kerja sama BPS dengan Kementerian Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (Kemenkop UKM) pada 2022–2023.

Sementara Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya mengatakan bahwa BRI akan terus memperkuat perannya sebagai mitra strategis pemerintah dalam memperluas akses pembiayaan bagi UMKM di berbagai sektor produktif.“BRI terus berkomitmen memperluas akses pembiayaan produktif bagi UMKM agar mampu tumbuh lebih kuat dan naik kelas. Melalui dukungan pada program Akad Massal KUR ini, kami berharap para pelaku usaha dapat meningkatkan kapasitas bisnis, memperluas pasar, dan menciptakan dampak ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat,” ujar Akhmad.

Akhmad Purwakajaya menambahkan bahwa KUR menjadi salah satu instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan dan penciptaan lapangan kerja di berbagai daerah.“KUR merupakan instrumen pembiayaan BRI untuk mendukung sektor usaha mikro dan sektor produktif. BRI senantiasa memperluas akses permodalan yang tidak hanya berdampak pada penciptaan lapangan kerja, tetapi juga mendorong peningkatan produktivitas usaha serta perputaran ekonomi di berbagai wilayah,” tambah Akhmad Purwakajaya.

Melalui sinergi bersama pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, BRI optimistis UMKM Indonesia mampu semakin kompetitif, inovatif, dan berdaya saing global.

Artikulli paraprakDPP APKASINDO Gelar Pertemuan Petani Sawit se-Kalbar untuk Tingkatkan Kapasitas Petani
Artikulli tjetërSequis Life Dukung Wirausaha Perempuan dengan Sequis Shepreneur 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini