Beranda Ekonomi Daerah Peternak Pertanyakan Kenaikan Harga Pakan dan Kebijakan Impor Satu Pintu Bahan Baku

Peternak Pertanyakan Kenaikan Harga Pakan dan Kebijakan Impor Satu Pintu Bahan Baku

18
0

Jakarta, Gelombang protes peternak rakyat kembali menguat seiring terus merosotnya harga ayam hidup di tingkat peternak dan meningkatnya biaya produksi.

Dalam aksi massa yang digelar puluhan peternak rakyat di Jakarta, Senin, 29 Juni 2026, salah satu isu utama yang disoroti adalah kenaikan harga bahan baku pakan, khususnya soybean meal (SBM), yang dinilai memberikan tekanan besar terhadap keberlangsungan usaha peternak mandiri.

Peternak menilai kondisi saat ini semakin berat karena harga live bird berada di bawah biaya pokok produksi. Sementara harga ayam hidup terus melemah, biaya pakan justru mengalami kenaikan yang signifikan.

Berdasarkan informasi yang dihimpun dari pelaku usaha, harga SBM yang sebelumnya berada pada kisaran Rp6.700 per kilogram kini mencapai sekitar Rp8.700 per kilogram.

Kenaikan tersebut memunculkan pertanyaan dari kalangan peternak mengenai efektivitas kebijakan impor bahan baku pakan melalui mekanisme satu pintu yang melibatkan BUMN PT Berdikari.

Peternak menilai perlu adanya evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola impor bahan baku pakan guna memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar mampu menciptakan harga yang efisien dan menguntungkan seluruh pelaku usaha, termasuk peternak rakyat.

Dalam aksi tersebut, para peternak mempertanyakan selisih harga bahan baku yang mencapai sekitar Rp1.900 hingga Rp2.000 per kilogram dibandingkan harga sebelumnya.

Mereka meminta pemerintah dan DPR RI untuk membuka ruang evaluasi terhadap pembentukan harga bahan baku impor serta mekanisme distribusinya.

“Kita di sini mempertanyakan impor satu pintu di PT Berdikari dengan selisih harga hampir dua ribu rupiah dari harga sebelumnya,” demikian disampaikan salah satu peternak dalam orasi massa yang digelar Depan Gedung BUMN, Jl. Merdeka Selatan Jakarta, Senin, 29 Juni 2026.

Menurut peternak, kenaikan biaya bahan baku yang tidak diikuti perbaikan harga ayam hidup menyebabkan kerugian terus menerus di tingkat budidaya. Kondisi tersebut berpotensi memicu panic selling, menurunkan harga ayam hidup lebih dalam, serta mengancam keberlangsungan peternakan rakyat.

Solehudin, salah satu penernak yang ikut dalam aksi itu mengatakan jika saat ini harga pakan terus naik. “Yang kami rasakan di kandang sangat sederhana, pakan terus naik, sementara harga ayam terus turun,” katanya.

Dia menjelaskan peternak membeli pakan lebih mahal, tetapi menjual ayam dengan harga di bawah biaya produksi.

“Kalau kondisi ini terus berlangsung tanpa ada penjelasan dan solusi, peternak kecil seperti kami yang pertama kali akan gulung tikar,” katanya.

Bagas, kordinator lapangan dalam aksi tersebut kepada media mengatakan para peternak tidak mempersoalkan .siapa pelaku impor bahan baku.

Namun mereka meminta adanya transparansi dan evaluasi terhadap kebijakan impor satu pintu agar dapat diketahui faktor-faktor yang menyebabkan kenaikan harga di tingkat pengguna.

Menurut dia, peternak juga mendorong pembentukan forum evaluasi bersama yang melibatkan Badan Pangan Nasional, Kementerian Pertanian, Kementerian BUMN, PT Berdikari, industri pakan, peternak rakyat, akademisi, serta DPR RI. Forum tersebut diharapkan dapat menghasilkan kebijakan yang lebih transparan, efisien, dan berpihak pada keberlanjutan peternak rakyat.

“Bagi kami, persoalan ini bukan semata mengenai harga bahan baku, melainkan menyangkut keberlangsungan usaha, ketahanan pangan nasional, dan masa depan peternakan rakyat Indonesia,” katanya.

Dalam aksi tersebut, mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar beban biaya produksi tidak terus dibebankan kepada peternak yang berada di ujung rantai usaha perunggasan.

“Kami tidak akan diam ketika biaya produksi terus naik. Selisih harga hampir Rp2.000 per kilogram harus dijelaskan secara terbuka kepada peternak dan publik. Negara tidak boleh membiarkan peternak rakyat terus menjadi pihak yang menanggung beban.”

Artikulli paraprakPNM Raih GCG Awards 2026, Bukti Tata Kelola Berdampak
Artikulli tjetërSatria Mega Kencana Optimis Lanjutkan Pemulihan Kinerja 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini