Menjadi pelaku usaha sukses dan maju harus berani mencoba yang hal baru dengan tetap mempertimbangkan risiko dan potensi pasar untuk mendulang cuan. Langkah inilah yang dilakukan Sri Rejeki Handayani (49), pemilik warung kelontong yang bertransformasi dari awalnya menjual jamu berkembang menjadi pedagang warung sembako hingga membuka usaha Agen BRI Link.
Wanita asal Solo ini bercerita, usaha awalnya hanya pedagang jamu seduh di depan rumahnya di Tangerang Selatan. Kemudian sedikit demi sedikit menambah dagangan hingga akhirnya menjadi warung sembako.”Makin kesini, usaha jamu mulai berkurang meski tidak banyak dan lebih banyak jualan kebutuhan bahan pokok,”ujarnya kepada Neraca.
Jauh sebelum menjamurnya warung kelontong Madura, usaha warung sembako miliknya ramai pembeli. Namun seiring dengan banyaknya warung dan gerai alfmart atau Indomart, Hani panggilan akrabnya membuka usaha tambahan layanan menjadi Agen BRI Link lantaran mendapatkan tawaran dari pegawai BRI yang sering belanja di warungnya. Maklum saja, warungnya yang tak jauh dari kantor unit BRI Parung Serab Tangerang Selatan melihat ada potensi bisnis untuk berkerjasama usaha Agen BRI Link.
Dirinya bercerita, ramainya pembeli yang kebanyakan pegawai konveski dan karyawan bengkel perkakas menjadi alasan BRI membuka kesempatan penawaran menjadi Agen BRI Link,”Saya ditawarin BRI menjadi Agen BRI Link, ya saya ambil saja dan memang sudah niat. Apalagi, di era digital saat ini semua jenis pembayaran bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja cukup bermodalkan smartphone,”ungkapnya.
Ibu dua anak ini mengatakan, setiap langganan yang beli saya informasikan warung kelontongan miliknya menerima layanan transaksi pembayaran e-walet, listrik, wifi, air, transer dan setor dana. Lambat laun, warga atau konsumen yang tadinya ragu pada akhirnya percaya bahwa layanan Agen BRI Link sama seperti transaksi di perbankan ataupun di mesin ATM.
Tiap malam minggu hingga minggu malam senin, lanjut Hani, banyak karyawan konveski ataupun karyawan bengkel yang melakukan transaksi mulai dari setor gajian mingguan untuk orang di kampung halaman, beli pulsa, topup Dana atau Gopay dan lainnya. “Saking banyak orang bertransaksi di Agen BRI Link, usaha layanan inilah yang lebih menopang penghasilan saya ketimbang hanya sekedar warung. Pokoknya, usaha Agen BRI Link sangat memutar ekonomi karena feenya lumayan,”tandasnya.
Dari usahanya menjadi Agen BRI, mampu mengantongi omset jutaan perbulannya. Namun dirinya enggan menyebut angka. Kendati tak pernah sepi dari orang yang memanfaatkan layanan transaksi BRI Link, dirinya tak luput dari pengalaman pil pahit ditipu konsumen karena kelalaian. “Saat itu, anak saya yang layani mas. Ada orang minta ditransfer Rp5 juta ke rekening yang dituju tanpa lebih dulu diminta uang cashnya. Setelah ditransfer, konsumen tersebut bilang sudah ditransfer dengan mengirim notifakasi sukses tranfer. Padahal, saat dicek uang belum masuk,”tuturnya.
Menurutnya, pengalaman pahit inilah menjadi pelajaran yang berharga untuk lebih berhati-hati menerima layanan transaksi dari konsumen. Usahanya menjadi Agen BRI Link 10 tahun lalu, kini mencatat pencapaian positif dengan 300 transksi perbulannya.
Menuai Berkah
Meski kesukesannya menjadi Agen BRI Link tidak mencapai prestasi sebagai Jawara dengan pertumbuhan transaksi yang pesat, namun Hani mengaku, hasilnya sudah cukup membawa berkah, seperti mampu menyekolahkan dua putrinya hingga ke perguruan tinggi, bisa memiliki rumah sendiri hingga mampu menyisihkan untuk menabung.
Kedepan, dirinya berharap usahanya bisa lebih maju lagi dengan tetap menjaga kualitas layanan dan menjaga harga fee transaksi yang kompetitif. Rizki (25), pelanggan warung Hani menyampaikan, biasa transaksi di Agen BRI Link disini untuk kebutuhan rumah tangganya, “Saya rutin transaksi sebesar Rp150 ribu buat token listrik ataupun gopay. Soal harga, gak jadi masalah yang penting transaksi disini praktis dan waktunya fleksibel, siang ataupun malam hari bisa dilakukan,”katanya.

Asal tahu saja, bisnis keagenan perbankan terpantau masih menjadi pendorong kinerja positif seiring tren pertumbuhan yang baik dari segi jumlah agen maupun volume transaksi yang menyumbang pendanaan bank. Direktur Micro BRI, Akhmad Purwakajaya pernah bilang, para agen BRILink ini pada dasarnya menjadi perpanjangan tangan bank dalam mendorong inklusi keuangan sekaligus menciptakan perputaran ekonomi yang nyata.
Menurutnya, kini peran BRILink Agen telah berkembang dari sekadar penyedia layanan transaksi menjadi lifestyle micro provider. “Hal tersebut menggambarkan konsistensi BRI dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif dan memberdayakan,” ujar Akhmad.
Pada gilirannya, kinerja tersebut turut mendorong pendanaan BRI. Itu tercermin pula pada pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) bank yang berhasil tumbuh 7,2% yoy menjadi Rp 2.135 triliun per Desember 2025 lalu. Ya, beberadaan agen perbankan berbasis kemitraan ini terbukti berkontribusi dalam mendongkrak pendapatan non-bunga (fee based income) perbankan serta menggerakkan roda ekonomi di tingkat pedesaan.
Secara nasional, jumlah Agen BRILink hingga akhir Maret 2026 telah menembus angka 1,18 juta agen yang tersebar di 66.450 desa, atau telah menjangkau lebih dari 80% total desa di Indonesia. Disampaikan Direktur Network dan Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto, volume transaksi dari BRILink Agen sudah tembus Rp 420 triliun sepanjang kuartal I-2026. Aktivitas dari BRILink Agen ini menghasilkan pendapatan berbasis komisi alias fee based income (FBI) sebesar Rp 459 miliar.
Selain itu, dirinya juga menyebut BRILink Agen punya peran yang krusial dalam penghimpunan dana murah (CASA). Aquarius bilang, rata-rata CASA harian yang dapat dihimpun oleh BRILink Agen mencapai Rp 30 triliun, tumbuh 18,37% secara tahunan. Dengan begitu, BRILink Agen saat ini punya posisi penting dalam menjaga likuiditas bank.






































