Beranda UMKM Berkat Binaan BRI, Bakers Gram Punya Ambisi dan Mimpi Besar Tembus Ekspor

Berkat Binaan BRI, Bakers Gram Punya Ambisi dan Mimpi Besar Tembus Ekspor

5
0

Meski usianya sudah tak muda lagi, namun tangannya cukup fasih meracik kopi giling yang tidak kalah apiknya seperti barista profesional. Adalah Ratna Sari Pratiwi, pemlik Bakers Gram yakni UMKM di bidang kuliner yang sukses merevolusi usahanya dari industri rumahan menjadi café modern dengan visi ekspor global.

Dirinya bercerita usaha cake yang dibangunnya merupakan warisan dari sang ibu yang dahulu memproduksi kue wedding dengan konsep dan resep Jepang.”Awal mula usaha ini dirintis sejak saya duduk di bangku SMP, membantu ibu yang menggantikan sang kakak mengelola bakery di sebuah bridal house keluarga. Saat itu, bakery kami menjadi bagian dari layanan komprehensif bridal house, mulai dari busana hingga kue pengantin,” ujar Ratna.

Namun seiring berjalannya waktu, usahanya lebih difokuskan pada membuat bolu ketimbang urusan bridal house. Apalagi, kesibukan kerja di perusahaan multinasional menyita waktunya untuk urusan bridal. Kendati usaha sudah dimulai dari orang tuanya, diakui Ratna, tantangannya datang tetap dari nol. Pasalnya, usaha cake yang dihadlenya tidak lagi menyasar kue untuk pesta nikah tetapi dikemas dalam bentuk cafe dengan versi kue bolu kotak khas Jepang.”Tantangan adalah banyak kafe berjamuran di Jakarta dan memperkenalkan bolu kotak ke pelanggan,”tuturnya.

Apalagi setelah sempat vakum karena renovasi rumah menjadi ruko pada tahun 2000 dan pandemi Covid. Kemudian semangat berwirausaha kembali tumbuh saat anak-anak telah dewasa dengan memanfaatkan oven yang ada di rumah. Maka lahirlah kembali brand Baker’s Gram pada 5 Desember 2023 dengan modal awal Rp 60 juta, termasuk renovasi ruko menjadi kafe. Kini, usaha tersebut tidak hanya menjual roti dan kue, tetapi juga menghadirkan konsep café yang nyaman di kawasan Gunung Sahari, Jakarta.

Semangat pantang menyerah membuahkan hasil bagi Ratna, kue bolu kotaknya mendapatkan hati dipelanggan yang sengaja mampir di kafenya. Bahkan dirinya sudah pernah terima pesanan partai besar untuk bolu kotak dari koleganya di Jakarta dan Surabaya.

 

Haus Ilmu

Dalam proses tumbuh kembang usahanya, Ratna bergabung sebagai UMKM binaan Rumah BUMN BRI Jakarta sejak tahun 2024. Dirinya aktif mengikuti berbagai pelatihan seperti strategi digital marketing, e-commerce, hingga sertifikasi halal self-declar,“Saya paling antusias ikut pelatihan marketing digital, karena di era sekarang, penjualan online sangat penting,”ujarnya.

Ratna mengatakan, dirinya tak pernah absen setiap ada event pelatihan dari BRI. Kendati sudah pernah diajarkan. Alasannya, di balik pelatihan bertemu banyak teman dan perluas jaringan,”Bila teman-teman biasanya tidak mau datang karena materinya sudah didapatkan, bagi saya tetap hadir sambil menimba ilmu juga menambah jaringan teman-teman UMKM lainnya,”ungkapnya.

Kini usahanya sudah memiliki omset Rp60 juta perbulannya. Dimana tenaga kerja café ini juga didominasi oleh lulusan SMK dan Gen Z yang aktif dalam pengelolaan media sosial dan platform e-commerce.“Mereka punya gaya sendiri, penuh semangat, dan cepat beradaptasi dengan dunia digital,” lanjut Ratna.

Disamping usaha Baker Gramnya, Ratna juga memiliki usaha bernama Kopi Kopai yang langsung diracik di dapurnya sendiri dengan biji khas dari Nusantara, seperti kopi dari Jawa Tengah. Usaha ini dibuatnya untuk meraup peluang pasar industri kopi yang terus tumbuh subur. Apalagi, Indonesia kini tercatat sebagai negara dengan jumlah kedai kopi terbanyak di dunia dengan sekitar 461.991 lokasi coffee shop, berdasarkan data Point of Interest (POI) global per November 2025.

Capaian ini menempatkan Indonesia di peringkat pertama dunia, mengungguli China yang berada di posisi kedua dengan lebih dari 190 ribu coffee shop, serta Amerika Serikat di peringkat ketiga dengan 145.600 titik lokasi. Data yang dipublikasikan oleh Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI) ini mencakup berbagai jenis tempat ngopi, mulai dari warung kopi tradisional pinggir jalan, kedai kopi Aceh yang buka 24 jam, hingga coffee shop modern dengan konsep estetik yang Instagramable.

Fenomena ini tidak bisa dijelaskan hanya dari konsumsi kafein semata, tetapi lebih pada budaya nongkrong yang khas di Indonesia, di mana kedai kopi berfungsi sebagai ruang ketiga (third place) antara rumah dan tempat kerja. Di Indonesia, coffee shop telah bertransformasi menjadi lebih dari sekadar tempat minum kopi. Kafe telah berubah fungsi menjadi ruang sosial untuk nongkrong, diskusi, kerja remote, mengerjakan tugas, rapat kecil, hingga sekadar berfoto.

Hal inilah yang dilakukan Bakers Gram dengan Kopi Kopainya yang menawarkan racikan kopi dengan berbagai inovasi rasa.  Bahkan begitu lihainya dalam meracik kopi, Ratna tidak pernah segan berbagi ilmu untuk menjadi barista,”Saya juga memberikan pelatihan barista ke sekolah SMA dan SMK di Jakarta. Selain berbisnis juga bisa memberdayakan generasi muda,”tandasnya.
Saat ini usaha kopi kopainya sudah terdaftar di Hak Kekayaan Intelektual (HKI) lantaran dari racikan biji kopi yang didapat dari petani kopi sudah menghasil beragam rasa kopi yang tidak kalah dari kopi asal Amerika. Bahkan dalam perayaan hari jadi BRI ke-130, usaha Kopi Kopainya yang diundang langsung untuk hadir membuka outlet bazar. “Dalam bazar, beberapa jam saja sudah 300 cup kopi terjual,”tandasnya.

Ridho (30), pelanggan setia Kopi Kopai asal Babelan Bekasi ini mengatakan, kopi yang disajikan disini tidak kalah dengan brand kopi di luar sana,”Saya biasa ketemu klien selalu mengajak di kafe ini. Selain rasa kopi dan bolunya enak, juga harganya cukup kompetitif,”ungkapnya.

Saat ini, Baker’s Gram mempunyai mimpi untuk bisa tembus pasar ekspor Korea dan Jepang dengan tetap menunggu dukungan dari BRI. Bahkan berkat binaan dari BRI, disamping usaha kopinya sudah pernah sukses mengirim sambal dari usaha kafenya ke Malaysia. Ya, dukungan penuh dari BRI juga menjadi faktor penting dalam perjalanan Baker’s Gram. Melalui Rumah BUMN Jakarta, BRI juga memberikan kemudahan layanan transaksi keuangan digital seperti EDC Merchant dan QRIS.

Artikulli paraprakCerita Sukses Salad Umma, Usaha dari Garasi Hingga Berdayakan Istri Marbot   
Artikulli tjetërMenjadi Jawara Agen BRI Link dan Hidupkan Ekonomi Keluarga

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini