Beranda Ekonomi Rayakan 85 Tahun, Ginandjar Kartasasmita Luncurkan Buku Pengabdian dari Masa ke...

Rayakan 85 Tahun, Ginandjar Kartasasmita Luncurkan Buku Pengabdian dari Masa ke Masa

44
0

JAKARTA – Menjaga dan memulihkan kepercayaan pasar merupakan kunci utama dalam pemulihan ekonomi Indonesia di masa krisis seperti pada 1998. Menjaga kredibilitas pemerintah di mata investor lokal dan global juga menjadi fondasi agar bantuan internasional tepat sasaran dan tidak disalahgunakan apalagi di korupsi. Pengalaman menghadapi krisis 1998 menjadi pelajaran penting di masanya.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa stabilitas nilai tukar rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor fundamental berupa kepercayaan. Ketika investor percaya terhadap arah kebijakan dan integritas pengelolaan ekonomi, arus modal dipastikan akan kembali masuk. Maka, permintaan terhadap rupiah bakal kembali meningkat, dan ujungnya kurs atau nilai tukar rupiah terhadap mata uang dolar Amerika Serikat (AS) akan dapat lebih terkendali.

Menteri Menteri Koordinator Bidang Ekonomi, Keuangan, dan Industri (Menko Ekuin) 1998-1999, Ginandjar Kartasasmita menegaskan bahwa kunci utama untuk menjaga nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang melemah terletak pada kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia. Saat itu, rupiah sempat terjungkal dari kisaran Rp 2.300–Rp 2.400 per dolar AS sebelum krisis, hingga menyentuh sekitar Rp16.000 per dolar AS pada titik tertinggi.

Stabilitas kurs tidak semata ditentukan oleh intervensi moneter, melainkan oleh keyakinan pelaku pasar untuk kembali memegang dan berinvestasi dalam bentuk mata uang rupiah. “Ketika kepercayaan terhadap rupiah pulih, pelaku ekonomi tidak lagi berbondong-bondong membeli dolar AS. Sebaliknya, mereka akan kembali membeli rupiah untuk kebutuhan investasi, impor, maupun aktivitas ekonomi lainnya. Jadi, kuncinya itu. Kalau tidak lagi membuang rupiah dan kembali membeli rupiah, maka stabilitas akan terbentuk,” ujarnya lebih lanjut saat peluncuran buku biografi “Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa, Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran”, di Gedung Menara Kompas, Jakarta, Kamis (9/4).

Prinsip tersebut ditekankan oleh tokoh nasional Ginandjar Kartasasmita dengan menambahkan, penguatan kepercayaan tersebut juga harus dibarengi dengan tata kelola yang baik, termasuk memastikan bantuan internasional tidak disalahgunakan. “Kepercayaan dari lembaga global seperti Bank Dunia dan Dana Moneter Internasional (IMF) menjadi faktor penting, karena aliran dana dari luar negeri akan kembali masuk dan dikonversi ke rupiah, sehingga memperkuat nilai tukar kita,” tuturnya.

Akan tetapi, sejalan dengan pemulihan kepercayaan pasar dan reformasi, ekonomi yang dilakukan pemerintah, rupiah secara bertahap menguat hingga kembali pada kisaran Rp 6.500–Rp 7.000 per dolar AS pada akhir masa pemerintahan B. J. Habibie pada 1999. Ginandjar yang saat itu diangkat kembali sebagai Menko Ekuin berperan dalam konsolidasi kebijakan ekonomi dan politik.

Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara stabilitas politik dan pemulihan ekonomi, karena gejolak politik terbukti menjadi salah satu faktor yang memperparah krisis.

Selain itu, pemerintah juga menempuh berbagai langkah strategis seperti restrukturisasi sektor perbankan dan korporasi, serta memulihkan hubungan dengan lembaga keuangan internasioal seperti IMF. Salah satu langkah penting yaitu membuka kembali dialog dengan IMF dan menandatangani Letter of Intent (LoI) secara transparan kepada publik, dengan tujuan menghilangkan kecurigaan dan membangun kembali kepercayaan masyarakat.

Tak hanya itu. Dalam proses tersebut, Ginandjar juga mengaku pentingnya menjaga kekompakan antar menteri ekonomi. Ia menyebut, meski terdapat perbedaan pandangan dalam pengambilan kebijakan, soliditas kabinet ekonomi, keuangan dan industri saat itu menjadi faktor penentu keberhasilan untuk menjaga stabilitas dan mengarahkan tujuan pemulihan ekonomi. Upaya pemulihan ekonomi selama satu setengah tahun pun akhirnya berhasil dijalankan.

Peluncuran buku “Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa, Perjalanan, Pergulatan Hidup dan Pemikiran”, ini menjadi momentum penting bagi publik untuk membedah peran strategis seorang Nasionalis Agamis, yang peduli pada Kemanusiaan, Teknokrat, Birokrat, Menteri, Pejabat Negara, Penasihat Presiden yang telah mengabdi selama lebih dari lima dekade, mulai dari masa Orde Lama, Orde Baru, transisi Reformasi, hingga sekarang ini.

Buku ini merangkum perjalanan hidup Ginandjar Kartasasmita—dari masa kecilnya sebagai “Johnny” hingga purnakarya sebagai tokoh nasional—serta memuat gagasan pemikirannya yang pernah dipublikasikan di Harian Kompas, buku dan berbagai karya literatur lainnya.

Selain itu, karya ini secara berani merekam peristiwa bersejarah yang membuatnya dijuluki “the untouchable”, termasuk klarifikasi atas tuduhan Jeffrey Winters terkait isu Freeport dan bantuan luar negeri serta dinamika politik di era Presiden Gus Dur.

Perjuangan dan pengabdian terbaik

Acara dibuka dengan serangkaian sambutan yang memberikan perspektif personal dan profesional terhadap sosok Ginandjar. Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional  Dr. H.TB. Ace Hasan Syadzily M.Si., A, mewakili keluarga.

Dalam sambutannya, Ace Hasan menegaskan, salah satu kelebihan Ginandjar sebagai politisi yang memiliki nilai karena punya perjuangan yang jelas. Melalui buku perjalanan hidup Ginandjar ini adalah tentang pengabdian yang terbaik.

Menurutnya, Ginandjar ini bukan hanya sebagai politisi, birokrat, penonton, pengikut, beliau juga pelaku dan aktor sejarah modern. Hal itu bisa dilihat dalam buku dijelaskan tentang bagaimana lahir di awal-awal kemerdekaan dalam kedisiplinan orang tua yang luar biasa, mengenyam pendidikan modern. Ini menunjukkan dari muda, Ginandjar adalah orang yang berprestasi.

“Pesan yang selalu terngiang dari yang disampaikan Ginandjar, sebagai pemimpin jangan hanya mau mendengar apa yang ingin didengar, tapi mau mendengar apa yang seharusnya kita dengar,” kata Ace Hasan.

Sementara itu, Irwan Oetama selaku perwakilan Kompas Gramedia memberikan apresiasi terhadap kontribusi pemikiran Ginandjar yang kerap mewarnai diskursus publik di media.

“Saya menyambut bahagia dan gembira dengan peluncuran buku biografi dari tokoh yang pernah ada di sepanjang masa dan segala zaman. Sejak masa Orde Lama, Orde Baru hingga Era Reformasi hingga masa kini,“ ujar Irwan Oetama.

Pelajaran penting: penggunaan kekuasaan

Di sesi peluncuran buku, Ginandjar Kartasasmita menyampaikan refleksi singkat mengenai dedikasinya yang tidak pernah berhenti pada kepentingan bangsa.

Ginandjar mengungkapkan tentang buku biografinya berjudul “Ginandjar Kartasasmita: Pengabdian dari Masa ke Masa – Perjalanan, Pergulatan Hidup, dan Pemikiran”, berisikan catatan mengenai pengalaman-pengalamannya di masa lalu dan masa kini yang bisa menjadi perhatian bagi generasi yang akan datang.

“Salah satu pelajaran yang penting adalah bahwa kekuasaan itu harus digunakan dengan sebaik-baiknya. Dengan amanah. Karena kalau tidak digunakan dengan amanah kekuasaan itu bisa bisa liar. Bisa memukul diri sendiri dan bisa merugikan banyak orang,“ tegas Ginandjar.

Di buku tersebut juga dikisahkan pengalaman yang menyenangkan dan tidak menyenangkannya saat menjadi menteri dan wakil ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD).

“Barangkali pengalaman-pengalaman saya ini ada manfaatnya buat generasi muda bisa belajar untuk siap berkorban. Siap untuk menghadapi yang paling buruk. Tetapi siap untuk memberikan yang sebaik-baiknya. Saya kira itu kata kuncinya,” kata Ginandjar kepada undangan dan media yang hadir.

Melengkapi seremoni peluncuran, diselenggarakan sesi bedah buku sebagai ruang refleksi kritis untuk menggali pemikiran strategis Ginandjar Kartasasmita. Diskusi ini menghadirkan tiga narasumber, Prof. Dr. Ir. Rachmat Pambudy, M.S. (Menteri PPN/Kepala Bappenas), Dr. Sofyan A. Djalil (Menteri ATR/BPN 2016-2022), dan tentatif Bahlil Lahadalia, S.E., M.Si. (Menteri ESDM).

Sesi bedah buku berlangsung interaktif di bawah panduan moderator Rosiana Silalahi, Direktur Utama Kompas TV.

Dalam tanggapannya, Sofyan Djalil menilai sosok Ginandjar Kartasasmita sebagai pribadi pekerja keras.  “Membaca buku ini kita bisa mengerti bagaimana Ginandjar muda bekerja sangat keras, juga sangat smart. Kemudian punya conviction luar biasa terhadap P3DN dan kemudian lahirnya pengusaha-pengusaha nasional yang sampai sekarang kita bangga. Itu adalah karena kerja beliau. Bagaimana Ginandjar membangun dan membentuk dirinya, ini saya lihat ada kombinasi dari smart masuk ITB kemudian di Jepang dalam tempo 5 tahun bisa menyelesaikan sarjana dengan bahasa Jepang khususnya. Beliau ini seorang pekerja keras,” ungkapnya panjang lebar.

Sementara menurut Rachmat Pambudy, sosok Ginandjar Kartasasmita berhasil meninggalkan legacy dalam pemikiran dan kepemimpinan.
“Kontribusi Ginandjar dalam meletakkan dasar-dasar hilirisasi dan pengembangan wirausaha nasional, termasuk konsep industrialisasi berbasis agroindustri. Ini menurut saya masih sangat relevan dan dapat menjadi pijakan menuju visi Indonesia Emas 2045,“ pungkas Rachmat Pambudy.

Rachmat Pambudy menambahkan jika Ginandjar di usianya saat ini masih bisa seperti Pak Mahathir, Indonesia pasti bisa lebih bagus daripada Malaysia.

Melengkapi acara peluncuran dan bedah buku, diadakan pula syukuran hari ulang tahun ke-85 Ginandjar Kartasasmita. Momen ini dihadiri oleh para kolega lintas zaman yang memberikan pengakuan atas integritas dan dedikasi beliau selama ini beserta keluarga dan kerabatnya. Acara ditutup dengan sajian hiburan dan ramah tamah, yang memperlihatkan sisi lain sang teknokrat yang tetap segar serta bersahaja di usia purnakaryanya.

Artikulli paraprakBAZNAS RI dan Dompet Dhuafa Perkuat Sinergi Pengelolaan Zakat Nasional
Artikulli tjetërBPDP BLU Kementerian Keungan & Aspekpir Indonesia Perkuat Peran Sawit untuk Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan UMKM Sawit

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini