NERACAONLINE – CarbonEthics, perusahaan restorasi ekosistem di Indonesia, menandatangani perjanjian kerja sama jangka panjang bersama lima desa di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Melalui proyek Pulang Pisau PRESERVE, CarbonEthics bermitra dengan Desa Henda, Pilang, Simpur, Tumbang Nusa, dan Tanjung Sangalang untuk merestorasi lebih dari 21.000 hektar hutan gambut. Kolaborasi ini menekankan kemitraan setara dimana masyarakat lokal tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitra aktif dalam menjaga dan memulihkan ekosistem gambut.
Co-Founder & Chief Executing Officer CarbonEthics Bimo Soewadji menegaskan pentingnya kolaborasi dalam inisiatif ini. “Kami percaya pada satu hal, ketika masyarakat berdaya, hutan akan terjaga dengan sendirinya. Perjanjian yang kita tandatangani menjadi kerangka yang menegaskan bahwa ada tanggung jawab yang selaras, ruang gerak yang transparan, dan manfaat jangka panjang yang adil untuk masyarakat,” jelasnya.
Melalui Pulang Pisau PRESERVE, CarbonEthics berharap dapat mendukung komunitas lokal menjadi lebih berdaya dan berkelanjutan, sekaligus mendorong kemandirian ekonomi, peningkatan kualitas hidup, serta kontribusi terukur bagi pemulihan alam dan konservasi biodiversitas.
Untuk mewujudkan hal tersebut, CarbonEthics bekerja sama dengan perwakilan kelima desa dalam merumuskan rencana pemberdayaan jangka pendek, menengah, dan panjang. Rencana program ini mencakup berbagai kategori, mulai dari pengembangan kapasitas petani dan kelompok perempuan, pelatihan organisasi, pendidikan melalui pelatihan dan beasiswa, hingga pengembangan potensi ekowisata.
“Dengan niat yang sangat baik dari kita bersama, kita laksanakan (kolaborasi ini) dengan cara yang baik dengan memperhatikan prinsip-prinsip pengelolaan hutan secara lestari sehingga akan menghasilkan sesuatu yang baik,” tutur Eko Nopriadi, Kepala Balai Perhutanan Sosial Banjarbaru yang menyematkan harapan bagi kolaborasi ini.
Kegiatan penandatanganan ini menghadirkan 40 peserta yang terdiri dari Kelompok Perhutanan Sosial, Kesatuan Pengelolaan Hutan, Balai Perhutanan Sosial Banjarbaru, Kelompok Kerja Sistem Hutan Kerakyatan, dan CarbonEthics. Kegiatan penandatanganan berjalan dengan lancar, melambangkan semangat dan komitmen semua pihak untuk merestorasi lingkungan demi kesejahteraan bersama masyarakat dan lingkungan Pulang Pisau.
Perjanjian ini mengatur pengembangan dan pengimplementasian proyek solusi berbasis alam yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas lingkungan melalui pengelolaan hutan yang berkelanjutan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat desa.
Sebagai wujud komitmen terhadap prinsip keterbukaan kolaborasi dan pemenuhan hak-hak masyarakat lokal, CarbonEthics telah lebih dahulu melaksanakan proses Free, Prior, and Informed Consent (FPIC), termasuk sosialisasi dan diskusi dengan masyarakat terkait rencana pengembangan program yang selaras dengan kebutuhan lokal.
“Besar harapan kami agar program ini bisa benar-benar berjalan dan bermanfaat bagi kita semua. Dengan pola kerja sama ini, harapannya akan terwujud hutan yang lestari dan masyarakat yang sejahtera,” disampaikan oleh Rusli, perwakilan Lembaga Pengelola Hutan Desa Pilang.
Selama satu dekade terakhir, kebakaran hutan menjadi tantangan besar bagi warga Pulang Pisau, dengan tingkat kebakaran mencapai sekitar tujuh persen per tahun. Melalui proyek Pulang Pisau PRESERVE, CarbonEthics berkomitmen menekan laju kebakaran hutan dan meningkatkan kualitas lingkungan hidup melalui upaya restorasi yang dilakukan dengan metodologi pembasahan gambut (rewetting), penanaman kembali (revegetation), dan pemberdayaan serta peningkatan kesejahteraan masyarakat (revitalization).
Selain itu, proyek ini juga berkontribusi untuk melindungi biodiversitas yang masuk dalam daftar spesies terancam punah menurut Daftar Merah International Union for Conservation of Nature (IUCN), termasuk Orangutan, Kucing Merah, Owa Kalawat, dan Monyet Ekor Panjang.
Kemitraan jangka panjang ini menegaskan upaya bersama dalam memperkuat ketahanan iklim di Pulang Pisau. Dengan pendekatan restorasi berbasis sains dan pemberdayaan masyarakat yang inklusif, proyek ini diharapkan mampu mendorong pemulihan alam dan konservasi biodiversitas yang signifikan dalam jangka panjang.


































