NERACAONLINE, Di tengah ketidakpastian ekonomi global, memahami arah perkembangan ekonomi dan mengantisipasi perubahan menjadi semakin penting.
Mengusung tema “Beyond Uncertainty: Winning in the New Global Economic Era”, PT Bank KEB Hana Indonesia (Hana Bank) kembali menggelar Hana Bank Economic Outlook 2027 dengan menghadirkan pembicara terkemuka Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika dan Bambang Brodjonegoro, Dekan dan CEO Asian Development Bank Institute (ADBI) sekaligus Menteri Keuangan tahun 2014-2016.
Hana Bank Economic Outlook merupakan agenda tahunan yang rutin diselenggarakan sejak tahun 2010. Acara yang dihadiri oleh lebih dari 350 nasabah dan mitra Hana Bank ini membahas prospek ekonomi tahun 2027 serta peluang dan tantangan yang akan kita hadapi.
Direktur Utama Hana Bank, Yung Ryul Ko mengatakan, ketidakpastian arah kebijakan suku bunga di negara negara perekonomian utama dunia, dinamika pasar saham Indonesia, volatilitas nilai tukar, serta risiko geopolitik yang masih berlanjut diperkirakan akan memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian global maupun Indonesia.
“Kepercayaan dan dukungan nasabah merupakan pendorong utama pertumbuhan Hana Bank. Oleh karena itu, kami berkomitmen untuk menjadi mitra keuangan terpercaya dan dapat diandalkan, tumbuh bersama para nasabah, serta mewujudkan masa depan yang lebih baik. Kami berharap Hana Bank Economic Outlook dapat memberikan wawasan yang bermanfaat bagi nasabah dalam memahami prospek ekonomi tahun depan, serta menyusun strategi bisnis di Indonesia dan mengelola aset pribadi,” ujar Yung Ryul Ko dalam sambutannya.
Yunarto Wijaya, Direktur Eksekutif Charta Politika menyampaikan bahwa dinamika politik domestik maupun global akan turut memengaruhi prospek ekonomi pada tahun 2027. Dari dalam negeri, perubahan biaya hidup, inflasi, dan nilai tukar rupiah dapat memengaruhi daya beli masyarakat dan sentimen konsumen.
“Selain itu, Indonesia masih harus menghadapi tantangan global mulai dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat hingga gangguan di Timur Tengah. Perlambatan ekonomi global dipengaruhi oleh berbagai faktor termasuk harga energi dan komoditas, perang dagang dan cuaca, kenaikan utang pemerintah, dan situasi di selat Hormuz. Di tengah tantangan tersebut, perkembangan artificial intelligence (AI) menjadi faktor penggerak pertumbuhan ekonomi,” ujarnya.
Sementara itu Bambang Brodjonegoro, Dekan dan CEO ADBI menyoroti proyeksi pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global yang masih tidak merata pada 2027. International Monetary Fund (IMF) memproyeksikan pertumbuhan PDB dunia pada tahun 2027 sebesar 3,40%, lebih tinggi daripada proyeksi pertumbuhan tahun 2026 yang sebesar 3,10%. Di ASEAN, Indonesia dan Filipina diproyeksikan mengalami pertumbuhan PDB tertinggi kedua sebesar 5,10% pada tahun 2027, hanya satu level di bawah Vietnam.
“Namun demikian, proyeksi PDB yang tinggi belum menjamin imbal hasil. Faktor-faktor yang dapat menarikinvestasi antara lain permintaan pasar dan kedalaman pemasok, listrik dan logistik yang andal, kepastian izin,dan keterampilan tenaga kerja,” ujar Bambang.
Selain kedua pembicara, hadir pula Jung Yoo Tag dari Hana Institute of Finance yang menyampaikanpandangannya tentang prospek ekonomi serta pasar keuangan global dan Indonesia, serta Yoo Young Dongdari Hana Bank Wealth Management Group yang menjelaskan tentang tren wealth management. Melalui eonomic Outlook 2027, Hana Bank berharap dapat terus menjadi mitra keuangan terpercaya baginasabah dengan menghadirkan wawasan dan perspektif yang relevan dalam menghadapi dinamika ekonomi.Inisiatif ini merupakan bagian dari komitmen Hana Bank untuk mendukung nasabah dalam mengidentifikasipeluang, mengantisipasi tantangan, dan mengambil keputusan keuangan yang tepat demi pertumbuhanyang berkelanjutan.




































