
NERACAONLINE- Sebanyak 1.871 hektare lahan sawah di Kabupaten Gayo Lues, Aceh, terdampak banjir bandang pada November 2025. Pemerintah daerah melakukan pemulihan melalui program optimalisasi lahan (oplah), termasuk perbaikan infrastruktur pendukung pertanian dan penyaluran bantuan benih kepada kelompok tani.
Kepala Bidang Ketahanan Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Gayo Lues, Slamet dalam siaran persnya di Aceh, kemarin mengatakan, tingkat kerusakan sawah bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. Dari total lahan terdampak, sebanyak 217 hektare masuk kategori rusak ringan, 450 hektare rusak sedang, dan 1.204 hektare rusak berat,“Dia kan tiga kategori di sini. Seumpamanya di sini ada juga ringan, di sampingnya dia rusak sedang, dan di paling ujung dia rusak berat. Yang dekat ke sungai ini dia rusak berat,” ujar Slamet.
Menurut Slamet, penanganan lahan dengan kerusakan ringan telah dilaksanakan, sedangkan penanganan lahan rusak sedang masih dalam tahap penyusunan kontrak. Pemulihan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lahan dan kebutuhan petani. Salah satu upaya tersebut berlangsung di Kecamatan Blangkejeren melalui program oplah yang mencakup sekitar 13 hektare sawah.
Dukungan diberikan sesuai kebutuhan kelompok tani, antara lain melalui pembuatan saluran drainase dan pemasangan pipa untuk menunjang pengairan.“Di sini sudah kami bantu dari pembuatan parit. Bisa dibuatkan parit, sebagian juga untuk pipa, tergantung permintaan ketua kelompok. Bagaimana ketua kelompok memintanya kepada tim dari dinas, seperti itulah yang kami kerjakan,” kata Slamet.
Selain mendukung perbaikan infrastruktur lahan, Dinas Pertanian menyalurkan lebih dari 5 ton benih padi kepada kelompok tani terdampak untuk mendukung penanaman kembali. Program oplah di Kecamatan Blangkejeren mulai dilaksanakan pada Mei 2026. Program ini mencakup lahan milik dua kelompok tani, yakni Poktan Bur Lintang seluas 8,67 hektare dan Poktan Duren Siku seluas 4,50 hektare. Dengan anggaran Rp4,6 juta per hektare, total anggaran program untuk lahan tersebut mencapai sekitar Rp59 juta.
Setelah melalui proses optimalisasi, petani di wilayah tersebut kini bersiap menghadapi panen perdana. Slamet memperkirakan hasil panen dapat mencapai sekitar 4 ton per hektare, dengan harapan produktivitasnya lebih tinggi.“Ini kami usahakan lebih dari 4 ton, sekitar 5 ton juga lah,” ujarnya.
Slamet mengatakan, program oplah diharapkan dapat membantu petani memulihkan kegiatan usaha tani dan meningkatkan produktivitas sawah yang terdampak bencana.“Alhamdulillah setelah kami turun ke lapangan waktu itu, insyaallah petani dari kelompok tani ini sudah meningkat,” katanya.
Pemulihan lahan sawah di Gayo Lues menjadi bagian dari upaya mengembalikan kegiatan produksi pertanian setelah banjir bandang. Melalui perbaikan infrastruktur, bantuan benih, dan optimalisasi lahan, petani diharapkan dapat kembali mengolah sawah dan menjaga keberlanjutan produksi pangan di daerah tersebut.



































