Beranda Ekonomi TOP GRC Awards 2026 Dorong Perusahaan Perkuat Kematangan GRC

TOP GRC Awards 2026 Dorong Perusahaan Perkuat Kematangan GRC

30
0

JAKARTA – Perusahaan di Indonesia didorong memperkuat tingkat kematangan Governance, Risk, and Compliance (GRC) agar tidak lagi sekadar menjadi instrumen pemenuhan kepatuhan, tetapi mampu mendukung pengambilan keputusan strategis dan penciptaan nilai berkelanjutan.

Dorongan tersebut mengemuka dalam penyelenggaraan TOP GRC Awards 2026 di Hotel Raffles, Jakarta, Rabu (9/9/2026). Memasuki tahun kedelapan sejak pertama kali digelar pada 2019, ajang tersebut mengusung tema “Sustainability by Design: A Journey Through Intelligent GRC”.

Tema tersebut menekankan pentingnya menempatkan aspek keberlanjutan sejak tahap perencanaan bisnis, termasuk dalam strategi, tata kelola, pengambilan keputusan, manajemen risiko, kepatuhan, pengendalian, budaya organisasi, hingga pemanfaatan data dan teknologi.

Ketua Penyelenggara TOP GRC Awards 2026 sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah TOP Business, Lutfi Handayani, mengatakan kekuatan ajang tersebut tidak hanya terletak pada pemberian penghargaan, tetapi juga pada proses penilaian dan pembelajaran bagi perusahaan.

Menurutnya, proses penjurian diharapkan dapat membantu peserta mengetahui posisi kematangan GRC, mengidentifikasi kesenjangan, sekaligus menyusun agenda perbaikan.

“Penghargaan merupakan bentuk apresiasi atas capaian. Namun, proses penilaian dan penjurian harus memberikan nilai tambah berupa insight dan agenda improvement. Kami berharap peserta tidak hanya bertanya ‘berapa bintang yang kami peroleh’, tetapi juga ‘di mana posisi kematangan GRC kami, apa gap-nya, dan apa yang perlu ditingkatkan berikutnya’,” ujar Lutfi.

Sementara itu, Ketua Dewan Juri TOP GRC Awards 2026 Antonius Alijoyo mengatakan konsep Intelligent GRC tidak sebatas digitalisasi dokumen maupun proses GRC.

Menurut dia, Intelligent GRC mengarah pada pemanfaatan data, teknologi, analitik, dan Artificial Intelligence (AI) untuk meningkatkan kualitas informasi, mempercepat deteksi risiko, memperkuat efektivitas kontrol, serta membantu manajemen mengambil keputusan secara lebih cepat, akurat, beretika, dan bertanggung jawab.

“Perjalanan menuju Intelligent GRC adalah perjalanan menjadikan GRC semakin terintegrasi dengan bisnis—dari sekadar memenuhi kewajiban, menuju GRC yang memberi insight, mendukung keputusan strategis, memperkuat resiliensi, dan menciptakan sustainable value,” ujar Antonius.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Komite Nasional Kebijakan Governansi (KNKG), Mardiasmo, menilai penguatan governansi tidak cukup hanya dengan memastikan kelengkapan struktur maupun kepatuhan terhadap regulasi.

Menurutnya, tata kelola harus tercermin dalam perilaku etis, kualitas pengambilan keputusan, perlindungan pemangku kepentingan, ketahanan perusahaan, hingga penciptaan nilai dalam jangka panjang.

Mardiasmo menjelaskan, evolusi Pedoman Umum GCG Indonesia menunjukkan adanya perkembangan dari lima asas yang dikenal sebagai TARIF menuju empat pilar PUG-KI 2021, yakni Perilaku Beretika, Transparansi, Akuntabilitas, dan Keberlanjutan (ETAK).

Karena itu, aspek sustainability perlu dirancang sejak penetapan purpose, strategi, risk appetite hingga alokasi sumber daya perusahaan. Sementara pemanfaatan Intelligent GRC juga harus tetap menempatkan akuntabilitas manusia sebagai bagian penting dalam proses pengambilan keputusan.

“Transformasi ini mengharuskan perusahaan meruntuhkan batasan ‘silo’ antar departemen dengan menyinergikan tiga standar global utama: ISO 37000 sebagai penentu arah governans yang berbasis tujuan, ISO 31000 sebagai radar manajemen risiko yang strategis, dan ISO 37301 sebagai fondasi bagi budaya kepatuhan organisasi,” jelasnya.

Mardiasmo menambahkan, perkembangan GRC ke depan juga perlu memperhatikan sejumlah aspek seperti etika pemanfaatan AI, outcome-based governance dalam akuntabilitas, pengungkapan isu keberlanjutan, serta integrasi ESG ke dalam skema remunerasi Dewan Komisaris dan Direksi.

“Perpaduan antara desain keberlanjutan dan kecerdasan eksekusi GRC ini akan membentuk ketahanan jangka panjang yang memastikan perusahaan tetap relevan dan dipercaya oleh pasar global,” katanya.

Senada, Sekretaris Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan RI, Nur Rachmad, mengatakan GRC perlu ditempatkan sebagai bagian dari keputusan strategis perusahaan.

Strategy, performance, risk, control, compliance, dan assurance, menurutnya, perlu dilihat sebagai satu kesatuan. Dengan demikian, risk dashboard juga perlu berkembang dari sekadar sarana pelaporan menjadi instrumen early warning dan decision intelligence.

Pemanfaatan data dan AI juga harus dibangun di atas prinsip digital trust, human oversight, auditability, keamanan, dan akuntabilitas.

GRC Jadi Strategic Enabler

Managing Director, Risk & Sustainability BPI Danantara, Effendi Hengki, mengatakan GRC saat ini tidak lagi cukup dipandang sebagai fungsi kepatuhan. GRC perlu berkembang menjadi strategic enabler sekaligus instrumen penciptaan nilai bagi perusahaan.

“GRC yang efektif membantu pimpinan mengambil risiko secara lebih berani namun tetap terukur sesuai risk appetite, melindungi nilai investasi dari risiko yang tidak diinginkan, sekaligus menangkap peluang strategis dan meningkatkan kualitas eksekusi bisnis,” kata Effendi.

Menurutnya, perubahan lingkungan risiko juga menuntut perusahaan meninggalkan pola GRC yang bersifat snapshot atau hanya aktif ketika menjelang audit.

Perusahaan, lanjut Effendi, perlu bergerak menuju continuous assurance melalui pengawasan dan pengujian kontrol secara berkelanjutan dengan dukungan data real-time, otomatisasi, serta sistem yang terintegrasi.

Namun, transformasi tersebut tidak cukup hanya mengandalkan teknologi. Setidaknya terdapat tiga fondasi yang perlu diperkuat, yakni people & culture, process & control, serta technology.

“Dengan demikian, fungsi GRC dan audit dapat bergerak dari sekadar memeriksa kejadian masa lalu menjadi mitra strategis yang membantu perusahaan mendeteksi risiko lebih dini, memperkuat ketahanan, dan mengambil keputusan bisnis dengan lebih cepat dan tepat,” ujarnya.

Menuju GRC Maturity Index

Sejalan dengan perkembangan tersebut, TOP GRC Awards 2026 melakukan penyempurnaan terhadap kriteria penilaian. Kerangka baru tidak lagi hanya melihat keberadaan kebijakan, struktur, sistem, maupun dokumen GRC, tetapi juga menilai bagaimana kapabilitas tersebut dijalankan, diintegrasikan dengan bisnis, menghasilkan nilai, dan diperbaiki secara berkelanjutan.

Kerangka penilaian tahun ini dikelompokkan dalam empat variabel besar, yaitu Value and Business Impact, Governance and Integration, GRC Execution Excellent, serta Continuous Maturity.

Keempat variabel tersebut kemudian dijabarkan ke dalam 12 dimensi penilaian, antara lain business performance, value proposition, governance model, GRC integration, risk management excellence, compliance and integrity, internal control and assurance, sustainability by design, data and technology, leadership and culture, serta continuous improvement.

Melalui pendekatan tersebut, hasil penilaian tidak hanya diarahkan untuk menentukan level penghargaan, tetapi juga menjadi gambaran bagi perusahaan dalam memperkuat praktik GRC yang telah berjalan, menemukan gap, dan menyusun roadmap peningkatan kapabilitas.

Dalam konteks tersebut, MSI Institute (member of MSI Group) menilai GRC Maturity Index (GRC-MI) penting sebagai instrumen untuk membantu organisasi memahami tingkat kematangan kapabilitas GRC secara lebih sistematis.

GRC-MI tidak hanya mengukur keberadaan kebijakan dan sistem, tetapi juga melihat efektivitas penerapannya, integrasi dengan bisnis, dukungan leadership dan culture, pemanfaatan data dan teknologi, serta dampaknya terhadap kinerja dan keberlanjutan perusahaan.

GRC Maturity Index yang dikembangkan MSI Institute mengacu pada prinsip-prinsip OCEG GRC Capability Model. Assessment tersebut diarahkan bukan sekadar untuk menghasilkan skor, melainkan menjadi diagnostic tool guna mengetahui posisi perusahaan saat ini, menemukan gap, menentukan prioritas perbaikan, dan menyusun roadmap peningkatan kapabilitas GRC.

“Yang paling penting dari maturity assessment bukan hanya mengetahui levelnya. Nilai strategisnya adalah mengetahui apa yang sudah kuat, apa yang masih menjadi gap, mengapa gap itu terjadi, dan improvement apa yang harus diprioritaskan agar GRC semakin efektif mendukung tujuan bisnis,” kata Lutfi.

Dengan penyempurnaan tersebut, TOP GRC Awards 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang apresiasi terhadap perusahaan yang memiliki praktik GRC yang baik, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran untuk mendorong peningkatan kematangan GRC secara berkelanjutan.

Artikulli paraprakDari Kampus ke Panggung Global, Mahasiswa Fashion BINUS Tampil di Hong Kong
Artikulli tjetërInovasi Balé by BTN, Bikin Generasi Muda Makin Gampang Miliki Rumah Impian

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini