Beranda Ekonomi Daerah BPDP Bersama PT SIB dan Ditjenbun Gelar Pelatihan Budidaya Pekebun Sawit untuk...

BPDP Bersama PT SIB dan Ditjenbun Gelar Pelatihan Budidaya Pekebun Sawit untuk Tingkatkan Produktivias dan Percepat ISPO

11
0

NERACAONLINE – Sebanyak 165 pekebun kelapa sawit dari Kabupaten Banyuasin dan Musi Banyuasin mengikuti Pelatihan Budidaya Kelapa Sawit, Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit Tahun 2026, Angkatan I-V yang diselenggarakan Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian bersama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan PT Sumberdaya Indonesia Berjaya (SIB).

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempersempit kesenjangan produktivitas perkebunan sawit rakyat yang hingga kini masih berada di bawah potensi optimalnya.

Direktur Utama PT Sumber Daya Indonesia Berjaya, Andi Yusuf Akbar, mengatakan pelatihan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan pengetahuan teknis peserta, tetapi juga mendorong perubahan pola pikir dan perilaku dalam mengelola usaha perkebunan secara profesional dan berkelanjutan.

“Pelatihan ini dirancang untuk meningkatkan kompetensi peserta secara menyeluruh, mulai dari aspek pengetahuan, sikap, hingga keterampilan teknis di lapangan,” kata Andi Yusuf, di Palembang.

Yusuf menyampaikan apresiasi kepada Direktorat Jenderal Perkebunan, BPDP, Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan, Dinas Perkebunan Kabupaten Banyuasin, Dinas Perkebunan Kabupaten Musi Banyuasin, serta berbagai kelembagaan pekebun yang telah mendukung penyelenggaraan kegiatan tersebut.

Menurut Andi, PT SIB selama enam tahun terakhir dipercaya Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPDP untuk melaksanakan berbagai program pengembangan kapasitas SDM perkebunan di berbagai daerah.

Pelatihan kali ini diikuti 165 peserta yang telah memperoleh rekomendasi teknis dari Direktorat Jenderal Perkebunan dan BPDP. Sebanyak 76 peserta berasal dari Kabupaten Musi Banyuasin dan 89 peserta berasal dari Kabupaten Banyuasin.

Seluruh proses pembelajaran mengacu pada pedoman teknis yang ditetapkan pemerintah, mulai dari materi, modul hingga silabus pelatihan. Para peserta akan mengikuti pembelajaran di kelas, diskusi kelompok, praktik lapangan, serta kunjungan lapang guna memperkuat pemahaman terhadap materi yang diberikan.

Adapun untuk mendukung proses pembelajaran, PT SIB menghadirkan sejumlah tenaga ahli dan praktisi perkebunan, antara lain Prof. Dr. Ir. Hariyadi sebagai narasumber utama dan Direktur Teknis PT SIB Ir. Heri Murdiono bersama tim instruktur lainnya yang memiliki pengalaman panjang di bidang budidaya kelapa sawit.

Salah satu agenda penting dalam pelatihan tersebut adalah kunjungan lapangan ke Koperasi Rukun Amanah Sejahtera di Kabupaten Banyuasin. Koperasi tersebut dipilih karena telah berhasil memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan dinilai dapat menjadi contoh praktik terbaik penerapan Good Agricultural Practices (GAP) serta tata kelola kelembagaan pekebun yang baik.

Melalui kunjungan tersebut, peserta diharapkan dapat melihat secara langsung bagaimana standar budidaya berkelanjutan diterapkan di lapangan sekaligus memahami berbagai persyaratan yang dibutuhkan dalam proses sertifikasi ISPO.

Produktivitas Masih Menjadi Tantangan

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Kelompok Pemberdayaan dan Kelembagaan Kelapa Sawit Direktorat Jenderal Perkebunan, Mula Putra, yang mewakili Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Kementerian Pertanian, menegaskan bahwa peningkatan produktivitas masih menjadi pekerjaan rumah terbesar perkebunan sawit rakyat Indonesia.

Menurut dia, produktivitas rata-rata kebun sawit rakyat saat ini masih berada pada kisaran 3,3 hingga 3,5 ton minyak sawit per hektare per tahun. Angka tersebut masih jauh di bawah potensi yang sebenarnya dapat dicapai, yakni sekitar 5 hingga 6 ton per hektare per tahun.

“Masih terdapat gap produktivitas yang cukup besar antara kondisi aktual dan potensi yang sesungguhnya bisa dicapai. Menutup kesenjangan inilah yang menjadi fokus pemerintah,” katanya.

Berbagai faktor dinilai menjadi penyebab rendahnya produktivitas tersebut. Mulai dari penggunaan benih yang tidak unggul, penerapan teknik budidaya yang belum optimal, hingga pemeliharaan tanaman yang belum sesuai standar teknis.

Karena itu, pemerintah menjalankan sejumlah program utama untuk mendukung peningkatan produktivitas perkebunan rakyat. Salah satunya adalah Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) yang ditujukan untuk mengganti tanaman tua atau tidak produktif dengan bibit unggul.

Sementara itu, Sekretaris Dinas Perkebunan Provinsi Sumatera Selatan dalam sambutannya menyampaikan bahwa pelatihan tersebut memiliki arti strategis bagi daerah yang merupakan salah satu sentra utama produksi kelapa sawit nasional.

Menurut dia, salah satu hal yang menarik dari pelatihan kali ini adalah tingginya partisipasi generasi muda pekebun.

“Kami melihat cukup banyak peserta dari kalangan generasi muda. Ini menjadi sinyal positif bagi keberlanjutan sektor perkebunan ke depan,” ujarnya.

Regenerasi petani, kata dia, menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan industri sawit nasional. Kehadiran petani muda diharapkan dapat mempercepat adopsi teknologi, inovasi, serta penerapan praktik budidaya yang lebih modern dan berkelanjutan.

Diaa juga mengingatkan bahwa tantangan industri sawit saat ini tidak hanya terkait produktivitas, tetapi juga tuntutan global terhadap aspek lingkungan dan keberlanjutan. Oleh karena itu, peningkatan kapasitas SDM menjadi fondasi penting untuk memperkuat daya saing pekebun rakyat.

Pelaksana Tugas Kepala Bidang Perizinan dan Penyuluhan Perkebunan Kabupaten Banyuasin, Sunarso, menambahkan bahwa pelatihan menjadi sarana efektif untuk memperkuat kemampuan teknis sekaligus kelembagaan pekebun.

Dia berharap seluruh peserta dapat mengikuti kegiatan dengan serius dan menerapkan ilmu yang diperoleh setelah kembali ke daerah masing-masing.

“Ilmu yang diperoleh jangan berhenti pada tataran teori. Harus diterapkan di lapangan dan dibagikan kepada pekebun lainnya agar manfaatnya semakin luas,” katanya.

Melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, BPDP, lembaga pelatihan, dan kelembagaan pekebun, pelatihan ini diharapkan menjadi salah satu langkah konkret dalam meningkatkan produktivitas sawit rakyat sekaligus mempersiapkan pekebun menghadapi era perkebunan berkelanjutan. Di tengah tuntutan pasar global yang semakin ketat, peningkatan kapasitas manusia dinilai menjadi investasi jangka panjang yang menentukan masa depan industri sawit Indonesia.

Artikulli paraprakBBRM Ingin Tambah 1 Unit Kapal PSV Senilai USD 22 Juta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini