Beranda Ekonomi Harga Pertamax Naik, Pengemudi Ojol Masih Andalkan Pertalite

Harga Pertamax Naik, Pengemudi Ojol Masih Andalkan Pertalite

16
0

Sejak 10 Juni lalu, harga BBM non-subsidi atau Pertamax meningkat dan direspons oleh sejumlah pengemudi ojek online (ojol). Sebagian besar masih mengandalkan Pertalite sebagai bahan bakar utama untuk operasional sehari-hari. Oleh karena itu, mereka menilai kenaikan harga Pertamax untuk saat ini belum memberikan dampak langsung terhadap penggunaan BBM harian sebagian pengemudi roda dua. “Kenaikan harga BBM non-subsidi, khususnya Pertamax saat ini belum berdampak signifikan, karena saya masih menggunakan pertalite. Tetapi kedepannya saya percaya bahwa akan ada dampaknya juga lama kelamaan,” kata Abdulloh, driver asal Depok, ditemui akhir pekan lalu.

Di tengah bayangan perubahan biaya operasional hal terpenting bagi Abdulloh adalah mempertahankan jumlah orderan tiap harinya. “Itu sangat penting, kalau misalkan orderan tidak sampai 10 orderan itu sangat disayangkan. Jadi sangat penting untuk mempertahankan jumlah orderan,” tegas Abdulloh.

Driver berusia 40 tahun ini mengatakan untuk kebutuhan operasional sehari-hari, dia lebih sering sering menggunakan Pertalite, meskipun sesekali mencampurnya dengan Pertamax agar performa motor tetap terasa lebih baik.

Menurut dia, saat ini pendapatan sudah tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Untuk mendapatkan order pelanggan juga terasa semakin sulit. Dia mengatakan biaya BBM memang menjadi salah satu pengeluaran terbesar. Selain BBM, pengeluaran sehari-hari juga menjadi tantangan tersendiri karena sumber penghasilan driver hanya berasal dari pekerjaan sebagai mitra driver.“Dengan biaya hidup yang terus berjalan sementara jumlah order tidak selalu stabil, kondisi ekonomi menjadi semakin terasa berat. Belakangan ini saya juga merasakan semakin sulit mendapatkan pesanan, sehingga penurunan jumlah order memberikan dampak yang cukup besar terhadap pendapatan harian,” kata driver yang bergabung dengan Gojek sejak 2020 itu.

Dia berharap kondisi mitra driver saat ini dapat lebih diperhatikan oleh pemerintah, terutama dalam penyusunan kebijakan yang berkaitan dengan BBM. Hal itu lantaran kebijakan yang berkaitan dengan BBM berdampak langsung terhadap biaya operasional driver.

Driver ojol lainnya, Aziz juga mengatakan dirinya tetap menggunakan Pertalite mengingat harga Pertamax sudah jauh meningkat dari sebelumnya. Meski memiliki pandangan yang beragam mengenai dampak kenaikan Pertamax, kedua pengemudi sepakat bahwa keberlangsungan order tetap menjadi faktor yang paling menentukan pendapatan sehari-hari.

Sebagai informasi, pada 10 Juni lalu, Pertamina Patra Niaga resmi melakukan penyesuaian harga BBM non-subsidi Pertamax dan Pertamax Green. Harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari dari Rp12.300 dan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.“Setelah harga Pertamax meningkat, saya merasa tidak lagi sanggup menggunakannya secara rutin sehingga lebih memilih mengantre Pertalite meskipun antrean panjang. Kondisi ini juga berdampak pada performa kendaraan yang saya rasakan tidak sebaik sebelumnya,” katanya.

Driver Gojek sejak 2017 ini lebih mengkhawatirkan dampak lain yakni soal kestabilan orderan. Dari sisi pendapatan, dia merasakan adanya sedikit penurunan jumlah order setelah kenaikan harga BBM Pertamax.“Beberapa pelanggan yang sebelumnya cukup loyal mulai mencari alternatif lain, sehingga frekuensi pesanan tidak sebanyak sebelumnya.”ungkapnya.

Karena itu, katanya, menjaga jumlah order tetap tinggi menjadi hal yang sangat penting bagi driver karena pendapatan sebagai mitra driver berpengaruh langsung terhadap ekonomi keluarga. “Dalam situasi seperti sekarang, kami harus terus menjaga performa agar tetap dapat memperoleh pesanan,” kata pengguna Honda Beat ini.

Dirinya berharap program apresiasi bagi driver dari aplikator tetap dipertahankan, dan untuk pemerintah dia berharap ada regulasi yang lebih jelas dan berpihak kepada kesejahteraan mitra driver, termasuk perlindungan seperti asuransi kecelakaan dan jaminan kesehatan.“Saya berharap semakin banyak program yang dapat membantu meningkatkan kesejahteraan mitra sehingga kami dapat terus bekerja dengan lebih tenang dan produktif,” katanya.

 

Artikulli paraprakJ&T Cargo Dukung Ekosistem Circular Economy Lewat Pengelolaan 8,2 Ton Waste Bersama Decathlon dan Yayasan KDM
Artikulli tjetërDari Transportasi ke Inspirasi, KAI Benchmark Layanan Publik Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini