Beranda Ekonomi Daerah APKASINDO Soroti Ancaman Ganoderma dan Krisis Harga TBS

APKASINDO Soroti Ancaman Ganoderma dan Krisis Harga TBS

14
0

Penajam Paser Uttara –Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APKASINDO) menyoroti dua ancaman besar bagi keberlanjutan perkebunan sawit rakyat, yakni serangan penyakit Ganoderma dan anjloknya harga tandan buah segar (TBS) petani.

Isu ini mengemuka dalam Workshop Pemberdayaan Petani Sawit dalam Pengendalian Ganoderma dan Kumbang Tanduk untuk Keberlanjutan Perkebunan Sawit yang digelar di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), Kalimantan Timur.

salah satu sponsor Kegiatan inI adalah badan pengelola dana perkebunan  dan di dihadiri pengurus DPP dan DPW APKASINDO, petani sawit, pemerintah daerah, serta sejumlah narasumber dari pemerintah pusat.

Ketua Umum dpp apkasindo Dr. Gulat ME Manurung, MP. C. IMA. C. APO mengajak organisasi petani sawit menjaga persatuan di tengah berbagai tantangan industri sawit nasional. Menurutnya, perbedaan organisasi tidak boleh menghalangi perjuangan bersama untuk membela kepentingan petani sawit Indonesia.

Ia menyebut APKASINDO telah terkonsolidasi di 24  provinsi dan 164 kabupaten/kota dengan sekitar 2,4 juta anggota. Karena itu, sinergi organisasi petani dan Pemda dinilai penting untuk  meningkatkan produktifitas  kebun  dan menjaga keberlanjutan sektor sawit sebagai penggerak ekonomi rakyat.

Ganoderma Disebut “Pembunuh Berdarah Dingin”

Selain membahas kelembagaan, Dr. Gulat memberi perhatian khusus terhadap penyebaran penyakit Ganoderma yang mulai mengancam kebun sawit rakyat.

Menurutnya, Ganoderma sangat berbahaya karena serangannya sering tidak disadari petani. Berbeda dengan kumbang tanduk yang mudah terlihat, penyakit ini menyerang akar dan batang hingga menyebabkan tanaman mati perlahan.

“Ganoderma ini pembunuh berdarah dingin. Tidak tampak seperti hama lainnya, tetapi bisa membuat tanaman layu dan mati dalam waktu relatif singkat,” kata Dr. Gulat.

Peringatan itu dinilai penting karena sejumlah sentra sawit di Kalimantan Timur mulai melaporkan peningkatan serangan Ganoderma.

Harga TBS Jatuh Akibat Macetnya Tender KPBN

Dalam kesempatan itu, Dr. Gulat juga menjelaskan analisis APKASINDO mengenai penyebab merosotnya harga TBS petani dalam beberapa pekan terakhir.

 

Menurutnya, persoalan utama berasal dari tidak berjalannya tender harian minyak sawit mentah (CPO) di Kantor Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN). Ketika tender berulang kali mengalami withdrawal atau gagal bertransaksi, pasar kehilangan acuan harga bagi pelaku usaha dan petani.

“Dampak terbesar dirasakan petani swadaya yang menguasai sekitar 93 persen dari total 6,8 juta hektare kebun sawit rakyat. Tanpa referensi harga yang jelas, pabrik kelapa sawit (PKS) komersial memiliki ruang lebih besar menentukan harga pembelian TBS,” papar Dr. Gulat.

Sementara itu, petani plasma yang hanya sekitar 7 persen masih terlindungi melalui mekanisme penetapan harga oleh dinas perkebunan. Namun mereka tetap terdampak karena formula harga mengacu pada tren CPO periode sebelumnya yang sudah turun.

Karena itu, APKASINDO mendesak pemerintah mengaktifkan kembali Bursa CPO Indonesia dan memastikan tender KPBN berjalan normal agar tercipta transparansi harga yang adil.

Dukung Pencabutan Izin PKS Nakal

Dr. Gulat mengatakan APKASINDO terus melakukan advokasi kepada Kementerian Pertanian, termasuk berkomunikasi langsung dengan Wakil Menteri Pertanian, untuk memperjuangkan perlindungan harga TBS petani.

Ia menegaskan organisasi petani mendukung langkah pemerintah mengawasi secara ketat PKS yang membeli TBS di bawah harga kewajaran.

“Perusahaan yang sengaja menekan harga dengan alasan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan harus ditindak tegas. Langkah yang dapat ditempuh mulai dari pembentukan satgas hingga pencabutan izin usaha,” kata dia.

Artikulli paraprakAda Ruang Digital Dibalik Geliat Pedagang Daging Pasar Ciputat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini