Beranda Ekonomi WtE Bisa Jadi Solusi Nasional Pengelolaan Sampah

WtE Bisa Jadi Solusi Nasional Pengelolaan Sampah

29
0

 

NERACAONLINE – Guru Besar IPB University Prof. Dr. Arief Sabdo Yuwono, menilai pengolahan sampah menjadi energi listrik atau waste-to-energy (WtE) memiliki peluang besar untuk menjadi bagian dari solusi nasional pengelolaan sampah, khususnya di wilayah perkotaan yang menghadapi tekanan timbulan sampah semakin tinggi.

Menurut Arief, persoalan sampah di Indonesia telah memasuki fase darurat. Ketergantungan pada Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) dengan sistem open dumping tidak hanya memicu pencemaran lingkungan, tetapi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat. “Dalam kondisi ini, WtE dapat berfungsi sebagai instrumen pengelolaan sampah yang efektif, selama diterapkan dengan prasyarat teknologi dan lingkungan yang ketat,” kata dosen di Fakultas Teknik dan Teknologi IPB University ini saat berbicara pada diskusi yang digelar Tenggara Strategic di Jakarta pekan lalu.

Arief menjelaskan dari sisi lingkungan, WtE berpotensi mempercepat waktu pengolahan sampah sekaligus mereduksi volumenya secara signifikan. WtE juga membantu menurunkan emisi kebauan, memperbaiki sanitasi lingkungan, serta mengurangi produksi air lindi dan populasi lalat sebagai vektor penyakit. “Panas hasil pembakaran selanjutnya dapat dikonversi menjadi energi listrik yang berkontribusi pada penurunan emisi karbon nasional,” ujarnya.

Namun, Arief menegaskan keberhasilan WtE sangat ditentukan oleh kesesuaian teknologi dengan karakteristik sampah nasional. Sampah perkotaan di Indonesia, kata Arief, masih didominasi oleh sampah organik dengan kadar air tinggi sehingga membutuhkan penanganan awal dan pemilahan di sumber.

“Teknologi harus dipilih setelah karakteristik sampah diketahui, bukan sebaliknya. Sampah perkotaan kita cenderung basah, sehingga perlu pengolahan awal agar proses pembakaran efisien dan aman bagi lingkungan,” ujar Arief dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (21/01/26).

Lebih jauh Arief menyoroti aspek keamanan lingkungan sebagai prasyarat utama penerapan WtE. Ini dimulai, kata Arief, dari sistem flue gas treatment untuk mengendalikan emisi, hingga pengelolaan abu sisa pembakaran yang dapat dikategorikan sebagai limbah B3 maupun non-B3. Selain itu, lanjutnya, edukasi dan komunikasi publik dinilai penting agar masyarakat memahami manfaat serta risiko teknologi ini secara proporsional.

Arief menyebutkan sejumlah negara telah membuktikan keberhasilan WtE dengan pendekatan lingkungan yang ketat. Di antaranya Jepang di Osaka dan Yokohama, Zurich di Swis, serta Dubai. Praktik baik juga dapat ditemukan di Tiongkok, Singapura, Jerman, dan Belgia.

“Insinerator modern mampu mengurangi volume sampah hingga lebih dari 90 persen dengan standar pengendalian emisi yang ketat. Kunci keberhasilannya terletak pada pemilihan teknologi yang sesuai dengan karakteristik sampah nasional, serta pengawasan lingkungan yang transparan dan berkelanjutan untuk melindungi kesehatan masyarakat,” jelas Arief yang menyelesaikan S3-nya di University of Bonn, Jerman ini.

Arief menilai langkah pemerintah yang tengah mengembangkan program WtE melalui Danantara sudah berada pada jalur yang tepat, meski tetap memerlukan kehati-hatian dalam implementasi. Program WtE ini menjadi salah satu proyek unggulan Danantara Investment Management.

“Insinerator itu memang cara efektif untuk menyelesaikan sampah dalam waktu yang singkat, tetapi harus dijalankan dengan tata kelola dan pengawasan yang kuat agar benar-benar menjadi solusi, bukan sumber masalah baru,” katanya.

Artikulli paraprakMelalui BAZNAS, PT Beiersdorf Indonesia Salurkan Bantuan Kemanusiaan Sumatra Rp343 Juta
Artikulli tjetërMengulik Tren Rekrutmen 2026 Untuk Menyusun Strategi Baru Menarik Talenta Terbaik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini