Jakarta, Pulau-pulau terluar Indonesia adalah pintu depan negara, wajah maritim Nusantara, dan ruang hidup ribuan masyarakat pesisir. Di wilayah-wilayah inilah identitas, kedaulatan, dan peluang ekonomi biru bertemu.
Berangkat dari kesadaran strategis tersebut, Deputi I BNPP RI, Dr. Nurdin, menerima audiensi Dr. Prasetya Yoga – Inisiator Invest in Islands Forum, dan Dr. Rahtika Diana – Founder Beyond Borders Indonesia dan Dr. Adiella Yankie – akademisi dan peneliti, untuk membahas arah baru pengelolaan pulau-pulau terluar dengan fokus pada pariwisata berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat.
Pertemuan ini menjadi momentum penting ketika kebijakan nasional dan inisiatif pembangunan akar rumput bertemu dalam satu meja. Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, termasuk ratusan pulau kecil terluar yang selama ini sering dipandang sebagai wilayah pinggiran.
Padahal, kawasan tersebut menyimpan potensi wisata bahari kelas dunia—mulai dari keanekaragaman hayati laut, pantai dan budaya pesisir, hingga lanskap eksotis yang jarang ditemukan di wilayah lain.
Dalam diskusi, Dr. Nurdin menegaskan bahwa pulau-pulau terluar bukan semata titik koordinat pertahanan, melainkan ruang ekonomi dan sosial yang perlu dikelola secara berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa pengembangan pariwisata di wilayah terluar harus memastikan manfaat langsung bagi masyarakat sekaligus menjaga keseimbangan ekologisnya, sehingga pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan kelestarian lingkungan maupun identitas lokal.
Sementara itu, Dr. Prasetya Yoga menjabarkan bagaimana Invest in Islands Forum menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan kepala daerah dan stakeholder termasuk investor untuk membangun networking dan sharing pengalaman dalam mengembangkan dan mengelola pulau-pulau.
Ia menekankan bahwa banyak potensi terbaik Indonesia justru berada di pulau-pulau terluar, namun sering kali tidak tersampaikan melalui narasi yang kuat dan terstruktur. Menurutnya, forum ini hadir untuk membangun komunikasi yang mampu sekaligus memastikan daerah memiliki materi yang kredibel dan berdaya saing.
Dari perspektif sosial dan pemberdayaan, Dr. Rahtika Diana menjelaskan bahwa pembangunan pariwisata di pulau terluar tidak boleh meninggalkan masyarakat yang selama ini menjadi penjaga identitas dan kekayaan maritim Indonesia.
Ia menekankan bahwa masa depan pulau terluar hanya bisa dibangun jika masyarakat ditempatkan sebagai aktor utama—dengan model ekonomi biru yang mengintegrasikan wisata bahari, UMKM pesisir, energi terbarukan, dan inovasi lokal. Pendekatan tersebut diyakini akan memastikan manfaat pembangunan tidak hanya jangka pendek, tetapi juga memperkuat ketahanan komunitas.
Diskusi juga memetakan sejumlah tantangan utama, seperti keterbatasan infrastruktur, akses transportasi, hingga tata kelola pariwisata yang belum sepenuhnya terintegrasi. Namun, seluruh pihak sepakat bahwa pulau-pulau terluar memiliki peluang besar untuk dikembangkan sebagai destinasi pariwisata.
Sebagai penutup, pertemuan ini menegaskan bahwa Invest in Islands Forum berkolaborasi dengan Beyond Borders Indonesia hadir sebagai ekosistem kolaborasi jangka panjang yang menghubungkan kepala daerah, pemerintah pusat, investor, komunitas, dan jejaring lintas sektor.
Forum ini memiliki keunikan karena berorientasi transformasi daerah, dengan pendekatan connection-driven, menempatkan kepemimpinan lokal sebagai pusat dialog, serta menghadirkan ruang yang konsisten untuk membangun kerja sama berkelanjutan.
Dengan karakteristik uniknya yang unik—mulai dari fokus pada pembangunan holistik, narasi yang kuat, pendampingan berkelanjutan, hingga keberpihakan pada masyarakat dan planet—Invest in Islands Forum tidak hanya community project tetapi gerakan nasional yang mengubah potensi kepulauan menjadi peluang nyata bagi kemakmuran Indonesia.


































