Beranda Keuangan Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan Masih Lebar, Jalin Berdayakan Perempuan UMKM

Kesenjangan Literasi dan Inklusi Keuangan Masih Lebar, Jalin Berdayakan Perempuan UMKM

25
0

 

NERACAONLINE – Kesenjangan antara akses layanan keuangan dan pemahaman masyarakat terhadap produk serta layanan keuangan masih menjadi tantangan di tengah pesatnya perkembangan transaksi digital. Kondisi ini mendorong perlunya penguatan literasi keamanan digital, terutama bagi perempuan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang semakin banyak memanfaatkan pembayaran digital dalam kegiatan usaha.

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2026, indeks inklusi keuangan Indonesia mencapai 93,61%, sedangkan indeks literasi keuangan sebesar 69,57%. Selisih 24,04 poin persentase tersebut menunjukkan bahwa akses terhadap layanan keuangan belum sepenuhnya diikuti pemahaman masyarakat dalam menggunakannya secara aman dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 6,11 miliar transaksi pada Agustus 2026, tumbuh 40,36% secara tahunan. Peningkatan ini mencerminkan semakin besarnya peran pembayaran digital dalam aktivitas ekonomi masyarakat, termasuk transaksi usaha sehari-hari.

Namun, meningkatnya penggunaan layanan digital juga diikuti risiko penipuan, mulai dari bukti pembayaran palsu, tautan yang mengatasnamakan penyedia layanan keuangan, hingga permintaan kode one-time password (OTP).

Untuk memperkuat perlindungan terhadap risiko tersebut, PT Jalin Pembayaran Nusantara (Jalin), bagian dari Danantara Indonesia, menggagas Gerakan Ibu Cek Dulu. Program pemberdayaan perempuan ini berfokus pada peningkatan literasi keamanan transaksi digital dan diawali dengan edukasi terhadap 100 perempuan di Kelurahan Susukan, Ciracas, Jakarta Timur, Jumat (16/10).

Bekerja sama dengan T.CARE, kegiatan tersebut melibatkan perempuan pelaku UMKM, ibu rumah tangga yang menjalankan usaha, kader Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK), serta anggota komunitas perempuan.

Para peserta mendapatkan pembekalan praktis untuk mengenali transaksi mencurigakan, melindungi data pribadi, mengamankan akun, serta mengambil langkah yang tepat ketika menghadapi dugaan penipuan digital.

VP Corporate Secretary Jalin Putu Agnia mengatakan, keamanan transaksi digital tidak hanya bergantung pada keandalan infrastruktur pembayaran, tetapi juga pada kemampuan masyarakat mengenali dan mengantisipasi risiko.

“Sebagai penyelenggara infrastruktur sistem pembayaran nasional, Jalin ingin memastikan kemajuan teknologi pembayaran diimbangi dengan peningkatan literasi keamanan digital. Bagi perempuan pelaku UMKM, kemampuan ini penting untuk melindungi transaksi, keberlangsungan usaha, dan keuangan keluarga,” ujar Putu.

Perluas Edukasi melalui Komunitas

Jalin juga mengembangkan program tersebut melalui pembentukan lebih dari 100 duta keamanan digital dalam kegiatan Digital Safety Ambassador Activation. Para duta akan memperoleh perangkat edukasi atau Digital Safety Toolkit serta pendampingan untuk menyebarkan pengetahuan mengenai keamanan transaksi digital.

Masing-masing duta ditargetkan mengedukasi sedikitnya lima orang. Dengan skema tersebut, program ini diharapkan menjangkau 500 penerima manfaat tambahan di luar 100 peserta awal.

Melalui sesi Digital Safety Academy, peserta juga dibekali pemahaman mengenai berbagai modus penipuan digital melalui simulasi kasus sehari-hari, langkah pencegahan, pengamanan akun, hingga pemanfaatan kanal pengaduan resmi.

Putu mengatakan, Gerakan Ibu Cek Dulu diharapkan berkembang menjadi gerakan bersama yang menjangkau lebih banyak komunitas perempuan pelaku UMKM di berbagai wilayah Indonesia.

“Kami ingin Gerakan Ibu Cek Dulu berkembang menjadi gerakan bersama yang tidak berhenti pada satu kegiatan saja. Harapannya, semakin banyak perempuan pelaku usaha yang mampu melindungi diri dan membagikan pengetahuan kepada komunitasnya, sehingga manfaat ekonomi digital dapat dirasakan dengan lebih aman dan berkelanjutan,” tambahnya.

Memasuki satu dasawarsa kiprahnya pada November 2026, Jalin menyatakan akan terus memperkuat kontribusinya dalam membangun ekosistem pembayaran nasional yang terintegrasi, aman, dan inklusif. Salah satu upaya yang ditempuh adalah memperluas edukasi keamanan transaksi digital melalui kolaborasi dengan mitra lokal dan pemberdayaan komunitas perempuan.

Artikulli paraprakRaih Penghargaan BAZNAS, ANGKASA Malaysia Apresiasi Kolaborasi Pemberdayaan Umat

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini