Beranda Properti JLL: Peluang Properti Indonesia Bergeser ke Koridor Industri dan Pusat Ekonomi Baru

JLL: Peluang Properti Indonesia Bergeser ke Koridor Industri dan Pusat Ekonomi Baru

23
0

NERACAONLINE – Pengembangan sektor properti Indonesia mulai bergeser ke luar Jakarta seiring meningkatnya investasi infrastruktur, diversifikasi rantai pasok, digitalisasi, dan tuntutan keberlanjutan. Kondisi tersebut membuka peluang pertumbuhan baru, terutama di koridor industri dan pusat ekonomi yang berkembang di berbagai wilayah.

JLL (NYSE: JLL) menilai, perkembangan sektor properti di Asia Tenggara tidak lagi semata-mata bergantung pada pemulihan siklus pasar, tetapi juga dipengaruhi faktor struktural, seperti fragmentasi geopolitik, diversifikasi rantai pasok, investasi infrastruktur, digitalisasi, serta standar keberlanjutan yang semakin tinggi.

Di Indonesia, perkembangan kawasan ekonomi khusus (KEK) di Jabodetabek, Bali, Batam, dan sejumlah lokasi strategis lainnya turut menarik permintaan dari berbagai sektor, termasuk layanan kesehatan, pusat data, perkantoran, ritel, dan perhotelan.

Pembangunan infrastruktur utama, seperti fase kedua MRT Jakarta, rencana perpanjangan jaringan kereta cepat, dan pengembangan Pelabuhan Patimban, juga dinilai memperkuat konektivitas antarkawasan sekaligus membuka peluang pertumbuhan industri yang lebih terdesentralisasi.

Jawa Tengah, khususnya Batang, Kendal, dan Semarang, menjadi wilayah strategis dalam perkembangan industri Indonesia. Dukungan infrastruktur dan meningkatnya aktivitas manufaktur membuat kawasan tersebut berpotensi membentuk pola pertumbuhan industri baru di luar pusat ekonomi yang selama ini berkembang.

Country Head JLL Indonesia, Farazia Basarah, mengatakan Indonesia memasuki fase ketika pertumbuhan real estat tidak hanya dipengaruhi permintaan pasar, tetapi juga pola aktivitas ekonomi di berbagai sektor baru.

“Jakarta tetap menjadi pusat ekonomi utama Indonesia, namun dalam jangka menengah, peluang yang semakin menarik justru terletak pada bagaimana regulasi pemerintah, pembangunan infrastruktur dan investasi membantu membangun ekosistem ekonomi baru di berbagai wilayah lain di negara ini,” ujar Farazia.

Tiga Peluang Sektor Properti

Dalam analisisnya, JLL mengidentifikasi tiga peluang yang dapat dikembangkan di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, yakni diversifikasi manufaktur, pusat data dan infrastruktur digital, serta optimalisasi dan perubahan fungsi properti.

Pada sektor manufaktur, perkembangan sejumlah subpasar dan konektivitas yang kuat antara koridor ekonomi utama mendorong pertumbuhan ekosistem industri dan logistik di Indonesia. Peluang yang terbuka mencakup pengembangan kawasan industri, platform investasi institusional, serta relokasi dan ekspansi perusahaan.

Sementara itu, adopsi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), investasi cloud, dan kebutuhan lokalisasi data mendorong permintaan terhadap pusat data. Bagi investor, sektor tersebut membuka peluang diversifikasi ke aset alternatif sekaligus mendorong pemilihan lokasi yang strategis.

Peluang lainnya berasal dari optimalisasi dan perubahan fungsi properti. Sejumlah bangunan perkantoran dan gedung ritel yang sudah tua di Jakarta menghadapi tekanan untuk tetap kompetitif seiring perubahan kebutuhan pasar. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang untuk mengalihfungsikan bangunan.

Meski Jakarta tetap memiliki peran sentral sebagai pusat bisnis dan ekonomi nasional, JLL melihat peluang pertumbuhan jangka menengah semakin kuat melalui perluasan aktivitas ekonomi ke wilayah lain di Pulau Jawa dan kawasan lainnya di Indonesia.

Country CEO & Southeast Asia JLL, Michael Glancy, mengatakan sentralisasi dan tren flight to quality masih menjadi bagian dari dinamika pasar properti. Hal tersebut juga diikuti upaya meningkatkan kualitas ruang kerja untuk menarik dan mempertahankan talenta.

Di sisi lain, pemerintah di berbagai negara Asia Tenggara semakin mendorong agenda desentralisasi melalui pembangunan infrastruktur dan penyediaan lahan di kawasan perkotaan yang tengah berkembang.

“Ini merupakan perubahan penting di pasar yang terus kami cermati. Kami juga akan terus bekerja sama dengan pemerintah untuk membantu mengembangkan kawasan yang menjadi target mereka,” ujar Michael.

Bagi pengguna properti, analisis JLL menyoroti pentingnya pendekatan yang lebih strategis dalam menentukan lokasi, mendorong desentralisasi, dan meningkatkan kualitas aset.

Pilihan lokasi kini semakin beragam, termasuk kawasan bisnis di luar pusat kota, model operasional lintas negara, serta ruang kerja yang lebih ramah lingkungan dan selaras dengan kebutuhan talenta maupun prioritas lingkungan, sosial, dan tata kelola atau environmental, social, and governance (ESG).

Head of Research & Advisory for Southeast Asia JLL, Dr. Yang Liang Chua, mengatakan Indonesia masih menjadi target investor sebagai bagian dari ekosistem properti Asia Tenggara. Namun, pasar properti juga semakin selektif.

“Ke depan, keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh eksposur terhadap kawasan secara luas, tetapi juga oleh kemampuan investor menempatkan modal secara tepat pada koridor, sektor, dan strategi aset yang memiliki prospek terbaik,” ujar Yang.

JLL menilai dinamika pasar properti Indonesia ke depan akan terus dipengaruhi tingkat konektivitas suatu lokasi dengan koridor ekonomi, jaringan infrastruktur, ekosistem industri, serta kebutuhan perekonomian yang dinamis.

Artikulli paraprakPerluas Peluang Karier Global, BINUS UNIVERSITY Luncurkan Joint Degree Global Business Chinese bersama South China University of Technology
Artikulli tjetërGandeng UINSU Medan, Bank BSN Gaspol Cetak Generasi Muda Melek Keuangan Syariah

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini