NERACAONLINE- Memberdayakan masyarakat dan pelaku usaha lokal menjadi komitmen McDonald’s Indonesia dalam menjalankan operasional. Tengok saja, sekitar 86% dari total belanja pemasok McDonald’s Indonesia dialokasikan kepada mitra lokal. Hubungan kemitraan tersebut tidak berhenti pada transaksi pembelian bahan baku. Selama 35 tahun, McDonald’s Indonesia membangun kemitraan jangka panjang dengan ratusan pemasok lokal yang berkembang menjadi proses peningkatan kapabilitas melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, dan penerapan standar operasional yang membantu pelaku usaha lokal memperkuat bisnisnya mengikuti standar industri yang terus berkembang.
Lebih jauh, kemitraan ini juga turut menghasilkan multiplier effect (efek berganda), dengan menggerakkan rantai ekonomi lokal dan menghadirkan ribuan lapangan kerja. Selain menunjukkan komitmen tinggi, kemitraan ini juga memperlihatkan bagaimana keberlangsungan bisnis restoran McDonald’s Indonesia sangat bergantung pada stabilitas bisnis dari para pelaku usaha di dalam negeri. “Hubungan McDonald’s Indonesia dengan para mitra bukan sekadar membeli, tapi diawali niat kuat agar dapat tumbuh bersama,”kata Ronni Rombe, Supply Chain & Quality Assurance Director PT Rekso Nasional Food di Jakarta, kemarin.
Membawa semangat ‘Sepenuhnya Indonesia’, perseroan secara konsisten membina ratusan mitra melalui transfer pengetahuan, audit, benchmarking, hingga study visit sampai ke luar negeri. “Melalui proses ini, kami berbagi praktik terbaik dan memperkenalkan standar kualitas bertaraf global yang harus dipenuhi, termasuk dalam aspek keamanan pangan dan kesejahteraan hewan. Sebuah kebanggaan ketika para mitra terus mengembangkan kapabilitas mereka hingga bisa bersaing secara mandiri di pasar,”jelasnya.
Bagi pemasok, keberlanjutan permintaan juga berjalan beriringan dengan kesempatan untuk meningkatkan kualitas, proses kerja, dan kapasitas operasional sesuai standar yang terus berkembang. Mochammad Mukti Ali, Guru Besar di bidang Strategic Management dan Marketing dari Global Academy Finance Management (GAFM) Amerika serta lulusan Doktor Strategi Manajemen dan Pemasaran dari Sekolah Bisnis IPB University, melihat hubungan jangka panjang antara perusahaan besar dan pemasok lokal sebagai salah satu ruang terjadinya supplier upgrading.
Menurutnya, keberlangsungan industri Quick Service Restaurant (QSR) di Indonesia telah berhasil menciptakan multiplier effect karena mendorong berbagai aktivitas ekonomi lintas sektor. Hal ini sejalan dengan agenda strategis pembangunan ekonomi inklusif di Indonesia.“Ketika pemasok memiliki hubungan jangka panjang dengan perusahaan, mereka tidak hanya
mendapatkan akses terhadap permintaan, tetapi juga kesempatan untuk belajar dan beradaptasi dengan standar, pengetahuan, serta praktik operasional yang lebih tinggi. Dalam jangka panjang, proses tersebut dapat memperkuat kapabilitas pemasok dan membantu mereka mengembangkan bisnis secara lebih berkelanjutan,” terang Mukti Ali.
Tumbuh Bersama Pemasok Lokal
Bagi McDonald’s Indonesia, membangun rantai pasok yang mampu memenuhi kebutuhan lebih dari 300 restoran membutuhkan hubungan yang konsisten dan berkelanjutan dengan para pemasok. Saat ini, sekitar 76% bahan baku McDonald’s Indonesia dibeli dari mitra dalam negeri, termasuk sayuran, telur, beras, cabai, dan minyak goreng. Bahkan, untuk bahan baku ayam, seluruhnya dipasok oleh peternak lokal yang harus mengirimkannya dalam kondisi segar setiap hari ke restoran.
Salah satunya adalah PT Ciomas Adisatwa, bagian dari PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JAPFA Group), yang merupakan salah satu mitra pemasok ayam McDonald’s Indonesia yang bergerak di bidang budidaya unggas komersial dan telah menjalin kerja sama selama lebih dari tiga dekade.
Bagi PT Ciomas Adisatwa, standar dan proses pembinaan yang diterapkan McDonald’s Indonesia tidak hanya menjadi persyaratan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan, tetapi juga menjadi salah satu referensi dalam meningkatkan proses kerja dan kualitas produksi di peternakan ayam mereka.
“Standar yang diterapkan McDonald’s Indonesia menjadi salah satu referensi eksternal untuk terus melakukan continuous improvement. Proses audit berkala mendorong kami untuk memastikan Standard Operating Procedure (SOP) dijalankan secara tepat dan konsisten.
Pada akhirnya, standar tersebut tidak hanya bermanfaat dalam hubungan kami dengan McDonald’s Indonesia, tetapi juga menjadi salah satu dasar kami dalam mengembangkan bisnis dan melayani pelanggan lainnya,” jelas Rendhiq Ramadhan, Head of Production Region Jabar 3 PT Ciomas Adisatwa.
Tak hanya mitra dengan skala besar, peluang untuk berkembang juga terbuka bagi mitra yang berawal dari skala lebih kecil. Seperti yang dialami Made Gunada, petani asal Bali yang memulai kerja sama dengan McDonald’s Indonesia sejak 1993. Dari sebidang lahan kecil, bisnisnya kini telah berkembang hingga Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur serta memasok kebutuhan lebih dari 50 persen restoran McDonald’s Indonesia. “Ketika memulai kerja sama, saya tidak menyangka sebuah perusahaan besar mau membuka pintu bagi seorang petani kecil dengan berbagai keterbatasan. Namun, sejak awal kemitraan, saya merasakan sendiri bagaimana McDonald’s Indonesia memberikan kepercayaan sekaligus pendampingan. Mulai dari pendampingan teknis hingga bantuan peningkatan fasilitas pertanian. Pertanian kami kini bisa konsisten memenuhi kuota dengan standar kualitas produk yang mampu bersaing hingga pasar global,” terang Made.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya meningkatkan skala usaha Made, tetapi juga memperluas kesempatan ekonomi bagi petani lain yang terlibat dalam ekosistemnya. Dengan berkembangnya usaha ke beberapa wilayah, kini ratusan petani turut bergantung pada aktivitas pertanian yang dijalankan. “Dampak ekonomi dari kemitraan ini tidak hanya dirasakan oleh usaha kami, tetapi juga oleh masyarakat lokal yang menggantungkan mata pencahariannya pada sektor pertanian. Bahkan, beberapa anak petani mulai melihat sektor pertanian sebagai pekerjaan yang menjanjikan dan pilihan untuk ditekuni,” tambah Made.

































