Beranda Energi Komisaris PLN: Pergantian Dirut Tak Boleh Hambat Transformasi

Komisaris PLN: Pergantian Dirut Tak Boleh Hambat Transformasi

25
0

 

NERACAONLINE – Komisaris Independen PT PLN (Persero) Andi Arief menilai pergantian Direktur Utama PLN dari Darmawan Prasodjo kepada Suroso Isnandar sebagai hal yang wajar dalam dinamika kepemimpinan perusahaan. Ia menekankan pentingnya menjaga kesinambungan transformasi yang telah berjalan, terutama dalam pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).

Menurut Andi Arief, Darmawan Prasodjo telah mengemban sejumlah posisi strategis di PLN selama bertahun-tahun, mulai dari komisaris, wakil direktur utama, hingga direktur utama. Karena itu, pergantian kepemimpinan dinilainya sebagai bagian dari proses organisasi yang normal.

“Kalau menurut saya, pergantian ini biasa saja. Pak Darmawan Prasodjo sudah cukup lama di PLN. Beliau pernah menjadi komisaris, wakil direktur utama, kemudian direktur utama,” ujar Andi Arief, Kamis (15/10).

Ia menegaskan, pergantian direktur utama tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan bagi program transformasi perusahaan. Sebaliknya, kepemimpinan baru diharapkan mampu melanjutkan berbagai perubahan yang telah dirintis sebelumnya.

Andi Arief menilai pengalaman Suroso di lingkungan PLN menjadi modal penting untuk menjaga kesinambungan tersebut. Selama kepemimpinan Darmawan, Suroso pernah menjabat sebagai direktur manajemen risiko dan kemudian direktur yang menangani manajemen proyek serta energi baru terbarukan.

“Ini menjamin continuity. Transformasi yang sudah dilakukan Pak Darmawan Prasodjo, dengan banyak perubahan di PLN, diharapkan bisa dilanjutkan oleh Pak Suroso. Jadi, menurut saya, tidak ada masalah dengan pergantian ini,” katanya.

Lebih lanjut, Andi Arief menyoroti tantangan besar yang akan dihadapi PLN ke depan, terutama dalam mendukung transisi energi nasional. Menurutnya, pengembangan energi terbarukan akan menjadi salah satu fokus penting dalam agenda pembangunan sektor ketenagalistrikan.

Ia merujuk pada rencana pengembangan kapasitas pembangkit hingga 2034, dengan porsi energi terbarukan yang ditargetkan mencapai sekitar 70 persen. Dalam rencana tersebut, pembangunan kapasitas pembangkit baru disebut mencapai sekitar 59 gigawatt (GW).

“Kalau kita melihat rencana sampai 2034, sekitar 70 persen dari pembangunan pembangkit yang direncanakan merupakan energi terbarukan. Karena itu, ke depan kita akan membangun berbagai sumber energi, mulai dari tenaga surya, air, angin, hingga nuklir,” ujar Andi Arief.

Menurut dia, pengembangan energi terbarukan tidak hanya berkaitan dengan upaya mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, tetapi juga membutuhkan perencanaan proyek yang matang, kesiapan infrastruktur, serta kepastian regulasi.

Terkait pengembangan pembangkit listrik tenaga nuklir, Andi Arief menyebut realisasinya masih menunggu kebijakan pemerintah. Ia juga menyinggung kemungkinan pembangunan di wilayah Jawa, dengan mempertimbangkan besarnya kebutuhan listrik di kawasan tersebut.

Meski demikian, penentuan lokasi dan pelaksanaan proyek tetap memerlukan kajian serta keputusan resmi dari pemerintah.

Andi Arief juga menyoroti pentingnya kesiapan proyek-proyek ketenagalistrikan yang telah dirancang PLN dalam beberapa tahun terakhir. Ia menyebut terdapat lebih dari 700 proyek yang masuk dalam perencanaan dan perlu dipersiapkan untuk tahap pelaksanaan.

Menurutnya, proyek-proyek tersebut harus melalui berbagai tahapan, mulai dari perencanaan, pemenuhan prosedur, hingga proses tender sebelum pembangunan dapat dimulai.

“Sekarang ada lebih dari 700 proyek yang sudah dirancang. Ada prosedur yang harus diselesaikan, mulai dari perencanaan sampai tender. Setelah itu, pembangunan pembangkit bisa mulai berjalan secara bertahap,” katanya.

Ia memperkirakan pembangunan sejumlah proyek pembangkit mulai berlangsung pada 2027. Pelaksanaan proyek tersebut diharapkan turut mendukung pertumbuhan ekonomi melalui peningkatan investasi, pembangunan infrastruktur, serta kebutuhan terhadap barang dan jasa.

Andi Arief menilai percepatan pembangunan pembangkit harus berjalan seiring dengan kebutuhan listrik nasional. Ketersediaan pasokan listrik yang memadai menjadi salah satu faktor penting untuk menopang aktivitas industri dan mendorong pertumbuhan ekonomi.

Pergantian pucuk pimpinan PLN juga menjadi momentum untuk memastikan arah transformasi perusahaan tetap sejalan dengan kebijakan energi pemerintah. Andi Arief menyinggung arahan Presiden Prabowo Subianto mengenai percepatan transformasi PLN, khususnya dalam mendukung pengembangan energi terbarukan.

Dalam konteks tersebut, pengalaman Suroso di bidang manajemen proyek dan energi baru terbarukan dinilai relevan untuk mengawal pelaksanaan berbagai program yang telah direncanakan.

Namun, tantangan kepemimpinan baru tidak berhenti pada penyusunan rencana. PLN juga dituntut memastikan proyek dapat direalisasikan tepat waktu, sesuai kebutuhan sistem kelistrikan, serta memperhatikan efisiensi dan keberlanjutan.

“Yang penting adalah transformasi yang sudah berjalan tetap dilanjutkan dan percepatan pembangunan pembangkit bisa dilakukan. Kita berharap proyek-proyek yang sudah direncanakan dapat segera masuk tahap pembangunan,” ujar Andi Arief.

Dengan demikian, pergantian direktur utama diharapkan tidak mengubah arah strategis perusahaan secara mendasar. Fokus berikutnya adalah menjaga kesinambungan program, mempercepat realisasi proyek, dan memperkuat peran energi terbarukan dalam memenuhi kebutuhan listrik Indonesia.

 

Artikulli paraprakDilengkapi Adaptive Active Noise Cancelling hingga -42dB, PX Hadirkan TWS Q60i Pro 
Artikulli tjetërBAZNAS RI Berikan Penghargaan Kemanusiaan bagi 5 Jurnalis Hilang di Krakatau

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini