NERACAONLINE, Penerapan Modern Advanced Agriculture System (PM-AAS) di Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, menunjukkan hasil menjanjikan. Panen perdana yang dilaksanakan bersama Kelompok Tani Mulya Tani di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Senin (12/10/2026), mencatatkan produktivitas rata-rata mencapai 10,72 ton per hektare.
Capaian ini menjadi modal penting bagi Kementerian Pertanian untuk mendorong perluasan penerapan teknologi tersebut hingga 10 hektare pada musim tanam berikutnya.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sukabumi, Aep Majmudin, mengatakan keberhasilan panen tersebut merupakan bagian dari upaya meningkatkan produktivitas padi melalui penerapan sistem pertanian modern. Uji penerapan PM-AAS kali ini dilakukan pada lahan seluas satu hektare dengan menggunakan varietas padi Padjadjaran yang berasal dari bantuan pemerintah.
“Tanaman dipanen pada umur 88 hari setelah tanam (HST). Pengukuran produktivitas dilakukan melalui metode ubinan oleh Badan Pusat Statistik (BPS),” kata Aep.
Berdasarkan hasil pengukuran terhadap dua sampel ubinan, sampel pertama menghasilkan 7 kilogram gabah dengan estimasi produktivitas 11,2 ton per hektare. Sementara itu, sampel kedua menghasilkan 6,4 kilogram dengan estimasi produktivitas 10,40 ton per hektare.
Dari kedua sampel tersebut, produktivitas rata-rata tercatat sebesar 10,72 ton per hektare.
Menurut Aep, capaian tersebut menjadi indikator awal potensi PM-AAS dalam mendorong peningkatan hasil panen. Meski demikian, ia menegaskan bahwa evaluasi teknis tetap diperlukan agar penerapan teknologi pertanian modern dapat memberikan hasil yang lebih optimal dan konsisten.
“Hasil panen ini menjadi modal yang baik untuk mendorong peningkatan produktivitas padi. Namun, kita tidak boleh berpuas diri. Masih ada beberapa hal yang perlu dievaluasi dan diperbaiki agar potensi hasilnya bisa lebih optimal,” ujarnya.
Dalam penerapan PM-AAS di Kelompok Tani Mulya Tani, proses budidaya diawali dengan perendaman benih sebelum disemai melalui penaburan secara manual. Pemupukan dilakukan sebanyak tiga kali, yakni pada umur 7, 30, dan 45 HST, menggunakan pupuk NPK dan urea.
Pengendalian gulma dilakukan melalui penyemprotan herbisida pada empat hari setelah tanam. Selain itu, tanaman mendapatkan aplikasi silika sebanyak dua kali untuk mendukung pertumbuhan.
Meski menghasilkan produktivitas yang menjanjikan, penerapan PM-AAS masih menghadapi sejumlah tantangan teknis. Salah satunya adalah kendala pada drum seeder yang digunakan dalam proses penanaman. Evaluasi terhadap penggunaan alat tersebut diperlukan agar proses tanam dapat berjalan lebih efektif.
Hasil pengamatan di lapangan juga menunjukkan masih adanya bulir padi yang tidak terisi sempurna. Kondisi ini menjadi perhatian untuk memperbaiki teknik budidaya, terutama dalam mengoptimalkan pemenuhan unsur hara mikro yang dibutuhkan tanaman.
“Kita masih menemukan bulir yang tidak bernas. Karena itu, aspek pemenuhan unsur hara mikro perlu ditingkatkan, disertai evaluasi terhadap penggunaan alat tanam. Harapannya, semakin banyak bulir yang terisi sempurna sehingga produktivitas bisa meningkat,” kata Aep.
Keberhasilan panen perdana tersebut menjadi pijakan bagi Kelompok Tani Mulya Tani untuk melanjutkan penerapan PM-AAS pada musim tanam berikutnya. Jika sebelumnya metode ini diterapkan pada satu hektare lahan, penanaman selanjutnya direncanakan diperluas menjadi 10 hektare pada awal November 2026.
Perluasan tersebut diharapkan menjadi kesempatan untuk menyempurnakan penerapan teknologi sekaligus menguji konsistensi produktivitas pada lahan yang lebih luas.
Agus, perwakilan Kelompok Tani Mulya Tani, menyampaikan apresiasi dan terima kasih atas perhatian serta bantuan Kementerian Pertanian melalui Pusat Perlindungan Varietas Tanaman dan Perizinan Pertanian (PPVTPP) yang mendampingi kegiatan di Kabupaten Sukabumi.
Menurut Agus, kelompok tani yang diwakilinya memiliki 40 anggota yang terlibat dalam kegiatan pertanian di wilayah tersebut. Ia berharap penerapan PM-AAS dapat terus dikembangkan sehingga memberikan manfaat lebih luas bagi petani.
Perwakilan PPVTPP menyampaikan bahwa keberhasilan panen PM-AAS di Desa Citepus menjadi capaian awal penerapan metode tersebut di Kabupaten Sukabumi. Keberhasilan ini diharapkan dapat memotivasi kelompok tani lainnya untuk mengadopsi sistem pertanian modern sebagai salah satu upaya meningkatkan produktivitas dan efisiensi usaha tani.
Meski demikian, Agus mengingatkan bahwa keberhasilan budidaya tidak hanya ditentukan oleh teknologi dan pemupukan, tetapi juga oleh kesiapsiagaan petani dalam menghadapi gangguan organisme pengganggu tanaman. Hama tikus dan burung menjadi ancaman yang perlu diantisipasi karena berpotensi menurunkan hasil produksi.
“Kami akan melanjutkan PM-AAS dengan rencana perluasan lahan menjadi 10 hektare,” kata Agus.
“Kami yakin dapat meningkatkan produksi dengan metode PM-AAS dengan didukung evaluasi teknis, pemenuhan kebutuhan nutrisi tanaman, penggunaan alat tanam yang optimal, serta pengendalian hama berkelanjutan dapat memperkuat upaya peningkatan produksi pangan nasional.



































