Beranda Market Kekhawatiran Pengaruh Dan antara di Pasar Modal Dinilai Terlalu Dini

Kekhawatiran Pengaruh Dan antara di Pasar Modal Dinilai Terlalu Dini

13
0

NERACAONLINE — Kekhawatiran terhadap potensi pengaruh Danantara Indonesia di pasar modal dinilai terlalu dini. Pengamat ekonomi dan pasar modal Farid Subkhan menilai Danantara Indonesia sebagai sovereign wealth fund (SWF) berperan strategis untuk mengelola aset negara dan melakukan investasi untuk menghasilkan return yang optimal bagi negara. Terkait kepemilikan saham di pasar bursa, Danantara Indonesia tidak dapat dipandang sebagai regulator.

Danantara bukan regulator. Danantara adalah salah satu market player dalam perekonomian. Kepemilikan saham pada institusi publik berfungsi sebagai investasi untuk mendapatkan gain tertentu,” katanya dalam keterangannya, Kamis (5/2).

Farid menilai Danantara Indonesia dalam hal ini berfungsi sebagai market driver dan market balancer. Dalam menjalankan fungsi tersebut, kata Farid, Danantara mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia di berbagai sektor, baik sektor riil maupun sektor keuangan, juga investasi dalam dan luar negeri. “Termasuk untuk menjaga daya saing perusahaan negara dalam persaingan global dan memperkuat daya saing ekonomi nasional,” kata pria yang aktif sebagai pengurus KADIN ini.

Terkait dengan keterlibatan Danantara Indonesia dalam menanamkan investasi di pasar modal, menurut Farid, hal tersebut bukanlah sebagai regulator, melainkan sebatas market player dalam perekonomian. Pihak yang menjalankan fungsi regulator dalam hal ini adalah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). “Wajar bila Danantara memiliki penyertaan saham di BEI karena hal itu merupakan praktik investasi yang sangat lazim,” ujarnya.

Farid juga mencontohkan hal serupa terjadi di negara maju. Seperti Singapura yang memiliki saham di Singapore Exchange (SGX), Qatar Investment Authority yang memiliki saham di Qatar Stock Exchange dan London Stock Exchange, dan China Investment Corporation (CIC) yang memiliki saham di Shanghai Stock Exchange, Shenzhen Stock Exchange, Hong Kong Exchanges & Clearing, hingga London Stock Exchange.

Sementara agar tidak terjadi tumpang tindih, Farid menyarankan agar OJK sebagai regulator dapat mengatur dan mengawasi operator dan pasar perdagangan saham dan uang. Ini penting dilakukan untuk memastikan BEI bisa menjalankan tugasnya secara transparan, adil, akuntabel dan pro pasar.

“Baik pasar domestik maupun pasar internasional, OJK tidak dipengaruhi oleh pemegang saham Bursa Efek Indonesia. OJK merupakan otoritas keuangan negara yang sangat kredibel dan independen.Tidak ada yang mempersoalkan itu, bahkan harus terus diperkuat,” kata pengajar di Universitas Perbanas ini.

Farid berharap, keberadaan exchange atau pasar modal seperti BEI adalah sebagai operator dan fasilitator perdagangan dan investasi bagi para investor, baik investor institusi besar maupun investor ritel. Ia menilai bahwa BEI harus dapat menjamin semua kepentingan investor, baik institusi maupun ritel. Dengan adanya investor besar, termasuk Danantara Indonesia pada Bursa Efek Indonesia (BEI), Ia meyakini hal tersebut bisa membuat BEI menjadi lebih berpihak pada pasar.

Sementara itu, Chief Investment Officer Danantara Indonesia Pandu Sjahrir menyampaikan pergerakan pasar dalam beberapa hari terakhir menunjukkan proses penyesuaian yang berjalan secara tertib dan mulai menemukan keseimbangan. Setelah sempat terjadi volatilitas, pasar pada perdagangan hari ini terlihat mulai rebound, mencerminkan respons investor yang semakin rasional dan selektif.

“Sejak awal, kami melihat dinamika pasar ini secara utuh dan proporsional. Meski sempat terjadi penyesuaian jangka pendek, pasar relatif cepat menunjukkan sinyal pemulihan, seiring kembalinya minat terhadap saham-saham dengan fundamental dan likuiditas yang kuat,” ujar Pandu.

Menurutnya, pergerakan tersebut mengonfirmasi bahwa pasar tengah melakukan rebalancing berbasis kualitas aset. Dalam konteks yang lebih luas, tekanan dan volatilitas yang terjadi juga bersifat regional dan global, bukan fenomena yang berdiri sendiri di Indonesia.

Aset-aset yang tetap diminati adalah perusahaan dengan fundamental yang solid, arus kas yang sehat, valuasi yang menarik, dan likuiditas memadai. Ini menunjukkan bahwa mekanisme pasar bekerja dan penyesuaian berlangsung secara rasional,” katanya.

Untuk itu, volatilitas jangka pendek dinilai sebagai bagian dari dinamika normal pasar, sementara keputusan investasi tetap relevan dilihat dalam horizon menengah hingga panjang. Pandu menegaskan bahwa Danantara Indonesia beroperasi sebagai market participant dan berinvestasi dengan disiplin yang sama seperti pelaku pasar lainnya.

“Sebagai market participant, Danantara aktif berinvestasi pada perusahaan-perusahaan yang memiliki fundamental kuat, valuasi yang atraktif, arus kas yang sehat, serta likuiditas yang baik. Kami tetap percaya pada prospek ekonomi Indonesia dan daya tarik aset domestik,” ujarnya.

Artikulli paraprakIES 2026 Tegaskan Arah Pertumbuhan Jangka Panjang Berbasis Investasi, SDM dan Ekonomi Hijau
Artikulli tjetërMelalui BAZNAS RI, Pemkot dan BAZNAS Kota Tasikmalaya Salurkan Bantuan Rp173 Juta untuk Pulihkan Sumatra

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini