Beranda Ekonomi Daerah CV Bumi Wijaya Manfaatkan Sidat Sejak 2018, Kini Kandungan Gizinya Disorot BRIN

CV Bumi Wijaya Manfaatkan Sidat Sejak 2018, Kini Kandungan Gizinya Disorot BRIN

34
0

 

NERACAONLINE – Potensi ikan sidat sebagai sumber pangan bergizi kembali menjadi perhatian setelah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap kandungan omega-3 ikan tersebut yang disebut lebih tinggi dibandingkan salmon. Namun, pemanfaatan sidat sebagai bahan baku produk olahan ternyata telah dilakukan pelaku usaha lokal sejak beberapa tahun lalu.

Salah satunya CV Bumi Wijaya, perusahaan manufaktur jamu yang beroperasi di Desa Gentasari, Kecamatan Kroya, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. Sejak 2018, perusahaan tersebut telah memanfaatkan ikan sidat sebagai salah satu bahan dalam formulasi produk madu anak bermerek Gizidat.

Pendiri CV Bumi Wijaya, Tatang Mulyadi, mulai tertarik dengan ikan sidat setelah mendengar cerita turun-temurun di lingkungannya yang menganggap ikan tersebut membawa sial. Alih-alih mempercayai mitos tersebut, Tatang justru menelusuri kandungan nutrisi ikan yang memiliki bentuk menyerupai belut itu.

Dari penelusuran tersebut, sidat kemudian dipilih sebagai salah satu bahan dalam formulasi Gizidat, bersama madu hutan dan temulawak atau curcuma. Produk itu diluncurkan pada 2018, sebelum penelitian terbaru mengenai kandungan gizi sidat kembali menjadi perhatian publik.

Potensi nutrisi ikan sidat kini turut mendapat perhatian dari kalangan peneliti. Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN, Gadis Sri Haryani, mengungkapkan bahwa ikan sidat memiliki kandungan asam lemak omega-3, terutama docosahexaenoic acid (DHA) dan eicosapentaenoic acid (EPA), yang tinggi.

Dalam perbandingan yang disampaikan BRIN, kandungan omega-3 sidat disebut lebih tinggi dibandingkan salmon dan ikan gabus.

“Selama ini, kita selalu mengira salmon yang paling tinggi, ternyata sidat justru memiliki nilai gizi tertinggi,” ungkap Gadis, sebagaimana dikutip dari laman resmi BRIN.

Selain omega-3, ikan sidat juga mengandung vitamin A, vitamin B kompleks, zat besi, protein, kalori, dan fosfor. DHA berperan penting dalam perkembangan dan fungsi otak, sedangkan EPA terlibat dalam berbagai fungsi tubuh, termasuk proses peradangan dan kesehatan jantung.

Dosen Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto, Yohanes Harvinda, S.Pi., M.Sc., juga menjelaskan bahwa ikan sidat memiliki kandungan lemak dan protein yang tinggi.

Sejumlah kajian di bidang perikanan menunjukkan bahwa sidat merupakan salah satu ikan dengan kandungan omega-3 yang menonjol dan berpotensi melampaui salmon maupun tuna. Kondisi tersebut membuka peluang bagi pengembangan sidat sebagai komoditas perikanan lokal yang memiliki nilai tambah melalui pengolahan menjadi produk pangan.

Dikembangkan untuk Pangan Bayi dan Balita

Pemanfaatan ikan sidat juga menjadi perhatian peneliti di bidang kedokteran dan gizi, khususnya untuk pengembangan pangan bagi kelompok rentan terhadap masalah kekurangan gizi.

Pada 2017, Dr. Dewi Marhaeni Diah Herawati dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (Unpad) meneliti pemanfaatan ikan sidat untuk pengembangan pangan yang berkaitan dengan penanganan malnutrisi dan pencegahan penyakit infeksi.

Dalam penelitian tersebut, bagian kepala, tulang, dan hati ikan sidat dimanfaatkan menjadi tepung yang berpotensi digunakan sebagai bahan pangan pendamping makanan bayi. Kepala ikan sidat diketahui mengandung protein, sedangkan bagian tulangnya dapat menjadi sumber kalsium.

Penelitian lain di lingkungan Unpad turut mengembangkan makanan tambahan berupa biskuit berbahan ikan sidat dan ubi Cilembu bagi balita berusia 3–5 tahun yang mengalami gizi kurang di Kabupaten Sumedang. Pemanfaatan sidat dalam bentuk kukis juga diteliti untuk kelompok balita berusia 12–24 bulan.

Berbagai penelitian tersebut memperlihatkan bahwa pemanfaatan ikan sidat tidak terbatas pada konsumsi ikan segar, tetapi juga berpotensi dikembangkan menjadi beragam produk pangan olahan.

Meski demikian, pengembangan produk berbahan sidat, terutama yang ditujukan bagi bayi dan balita, tetap membutuhkan pengujian keamanan bahan, proses pengolahan, kandungan gizi produk akhir, serta kesesuaian dengan kebutuhan nutrisi berdasarkan usia.

Dengan dukungan riset dan pengolahan yang tepat, potensi ikan sidat dapat menjadi peluang pengembangan komoditas perikanan lokal sekaligus diversifikasi produk pangan bergizi di Indonesia.

Artikulli paraprakSuroso Isnandar Resmi Pimpin PLN, Ini Rekam Jejak dan Tantangan yang Menanti

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini