NERACAONLINE – Pagi di Panti Werdha Muslim Rumah Oma, Kecamatan Cilodong, Kota Depok, Jawa Barat, terasa sedikit berbeda. Di sela rutinitas para penghuni panti, ada aktivitas baru yang membuat mereka memiliki kesibukan: memberi makan ayam dan ikan nilai, hingga mengambil telur.
Bagi para lansia, kegiatan sederhana itu menghadirkan kesenangan sekaligus hiburan dalam keseharian. Aktivitas tersebut merupakan bagian dari program PNM Lansiapreneur yang diluncurkan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) di Panti Werdha Muslim Rumah Oma, Kamis (22/10).
Program ini menjadi bentuk Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PNM yang dikembangkan untuk memberikan ruang bagi para lanjut usia agar tetap aktif, berkegiatan, dan produktif. PNM Lansiapreneur menghadirkan sejumlah kegiatan menarik di panti yang berusia tiga tahun ini, mulai dari budidaya ikan nila pada tiga kolam dengan kapasitas 300 ekor, hingga budidaya ayam petelur dengan kapasitas 36 ekor ayam.
Program Lansiapreneur menjadi bentuk perhatian PNM terhadap kelompok masyarakat lanjut usia yang selama ini relatif jarang tersentuh program pemberdayaan ekonomi. Direktur Utama PNM Kindaris mengatakan, program tersebut merupakan terobosan dalam pelaksanaan TJSL PNM.
“Ini sebenarnya program PJSL kita, tapi bentuknya baru kita. Kita coba masuk ke Panti Werdha untuk bisa membantu oma dan opa,” ujar Kindaris.
Menurut Kindaris, pendekatan Lansiapreneur berbeda karena para lansia tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga diajak berinteraksi dengan makhluk hidup melalui kegiatan pemeliharaan ayam dan ikan. Kindaris menjelaskan, gagasan Lansiapreneur juga berangkat dari persoalan batas usia maksimal 65 tahun untuk pembiayaan usaha.
Oleh karena itu, lanjut Kindaris, PNM mencoba menghadirkan pendekatan berbeda agar para lansia tetap memiliki kesempatan untuk berkreasi dan menjalankan aktivitas produktif. Kindaris menilai kegiatan tersebut juga memiliki potensi menghasilkan nilai ekonomi melalui hasil peternakan seperti telur dan ikan.
“Ini kita kemas dalam program TJSL dengan harapannya warga negara Indonesia yang di atas 65 tahun masih bisa berkreasi, berkreatif untuk bisa berusaha,” ungkap Kindaris.
Kindaris menyampaikan pendampingan menjadi bagian penting agar kegiatan tersebut dapat berjalan secara berkelanjutan. PNM akan melakukan pemantauan melalui jaringan yang dimiliki, termasuk jaringan PNM yang berada di sekitar lokasi.
“Pendampingan kita kan memang setiap saat kita akan mendampingi ini. Jadi kita monitor juga melalui jaringan-jaringan kita,” ucap Kindaris.
Menurut Kindaris, keberlanjutan kegiatan perlu dijaga karena pemeliharaan ayam dan ikan membutuhkan perhatian secara rutin. PNM memastikan kebutuhan dasar untuk menjalankan aktivitas tersebut juga tetap tersedia.
Kindaris mengatakan Lansiapreneur saat ini masih menjadi program percontohan. PNM, sambung Kindaris, akan melihat perkembangan dan respons penerima manfaat sebelum mengembangkannya ke daerah lain yang memiliki panti werdha.
“Di daerah lain kita akan kembangkan lagi. Ini baru piloting saja dan kita lihat responnya, dan ternyata responnya alhamdulillah positif tentunya kita akan kembangkan lagi,” lanjut Kindaris.
Untuk memperluas jangkauan program, sambung Kindaris, PNM juga berencana menggandeng Baznas. Kindaris berharap kolaborasi tersebut dapat mendorong model pemberdayaan lansia diterapkan di lebih banyak lokasi.
“Mudah-mudahan ini menjadi model sehingga nanti banyak juga perusahaan-perusahaan yang TJSL-nya juga masuk ke area seperti ini,” kata Kindaris.

































