Beranda Ekonomi Daerah Jangan Ukur Kehidupan Orang Lain dari Apa yang Mereka Miliki

Jangan Ukur Kehidupan Orang Lain dari Apa yang Mereka Miliki

27
0

 Oleh: Dr. Mohan, S.E., M.E.I.(Kepala Divisi Pengumpulan Kementerian dan Lembaga Nonkementerian Serta Plt Kepala Divisi Pengumpulan Usaha Jasa dan Perdagangan BAZNAS RI) 

Ada orang tua yang setiap hari berjibaku mencari biaya pendidikan dan terapi bagi anak berkebutuhan khusus. Ada pula orang tua yang berjuang keras agar anaknya dapat bersekolah di lembaga pendidikan yang baik, dengan harapan kelak anaknya memiliki masa depan yang lebih cerah. Di sisi lain, ada pasangan yang telah lama mendambakan keturunan, tetapi hingga kini belum mendapatkannya.

Ada orang yang hampir semua kebutuhan hidupnya terpenuhi. Ia memiliki harta, keluarga, pekerjaan, dan kesempatan mengembangkan diri. Namun, pengetahuan agamanya masih terbatas. Sebaliknya, ada orang yang hidup dalam kesederhanaan, tetapi memiliki keluasan ilmu agama, kedalaman spiritual, dan kesungguhan dalam beramal saleh.

Kenyataan ini mengingatkan kita bahwa kehidupan manusia tidak pernah seragam. Setiap orang memiliki keadaan, tanggung jawab, kesempatan, dan pergulatan batin yang berbeda.

Karena itu, barangkali kita perlu berhenti sejenak sebelum menilai kehidupan orang lain. Sebab, apa yang tampak dari luar belum tentu menggambarkan seluruh kenyataan yang sedang mereka jalani.

Kehidupan Bukan Perlombaan untuk Memiliki Segalanya 

Dalam kehidupan sosial, keberhasilan seseorang sering kali diukur melalui hal-hal yang mudah dilihat: kekayaan, jabatan, pendidikan, pasangan, dan anak-anak. Keluarga yang memiliki anak berprestasi kerap dianggap berhasil. Orang yang memiliki rumah besar dan penghasilan tinggi dipandang telah mencapai kehidupan yang mapan. Sementara itu, mereka yang belum memiliki keturunan atau sedang menghadapi persoalan keluarga terkadang dipandang dengan rasa iba, bahkan tidak jarang menjadi sasaran pertanyaan yang menyakitkan.

Padahal, apakah benar ukuran keberhasilan hidup sesederhana itu?

AlQur’an memberikan perspektif yang berbeda. Allah berfirman dalam QS. Al-Fajr ayat 15–17, yang mengingatkan manusia agar tidak menganggap kelapangan rezeki sebagai bukti bahwa dirinya pasti dimuliakan Allah, atau kesempitan rezeki sebagai bukti bahwa dirinya dihinakan.

Ayat tersebut mengoreksi cara pandang manusia yang terlalu cepat menghubungkan keadaan material dengan kemuliaan seseorang di hadapan Tuhan.

Harta memang dapat menjadi nikmat. Anak merupakan karunia dan amanah. Kesehatan, pendidikan, serta kesempatan bekerja adalah hal-hal yang patut disyukuri. Namun, semuanya tidak dengan sendirinya menjadi ukuran ketakwaan.

Allah menegaskan dalam QS. Al-Hujurat ayat 13 bahwa manusia yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang paling bertakwa.

Artinya, pusat penilaian bukanlah semata-mata apa yang kita miliki, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan, memperlakukan sesama, dan mempertanggungjawabkan amanah yang diberikan kepada kita.

Anak, Karunia, dan Jalan Hidup yang Berbeda 

Dalam QS. Asy-Syura ayat 49–50, Allah menjelaskan bahwa Dia menganugerahkan anak perempuan, anak laki-laki, keduanya, atau menjadikan seseorang tidak memiliki keturunan. Ayat ini menempatkan persoalan keturunan dalam cakupan kekuasaan dan ketetapan Allah.

Pesan tersebut semestinya membuat kita lebih bijaksana dalam memandang kehidupan keluarga.

Pasangan yang belum memiliki anak tidak sepatutnya dianggap gagal menjalani kehidupan. Mereka tetap memiliki kehormatan, kesempatan beribadah, dan ruang untuk memberikan manfaat bagi sesama. Kita tidak berhak menyederhanakan perjalanan hidup mereka hanya berdasarkan ada atau tidaknya keturunan.

Demikian pula, orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus tidak semestinya dipandang sebagai keluarga yang kurang beruntung atau sedang menerima hukuman Tuhan.

Anak berkebutuhan khusus adalah manusia yang memiliki martabat dan hak untuk mendapatkan kasih sayang, pendidikan, pelayanan kesehatan, serta kesempatan berkembang sesuai kemampuannya. Kondisi mereka tidak dapat dijadikan dasar untuk menuduh adanya dosa atau kekurangan ketakwaan orang tuanya.

Tidak ada alasan yang cukup untuk menghubungkan kondisi disabilitas seorang anak dengan dugaan bahwa rezeki orang tuanya tidak bersih atau ibadahnya kurang baik. Persoalan kesehatan dan perkembangan anak perlu dipahami berdasarkan ilmu pengetahuan, keadaan individual, dan penanganan yang tepat. Adapun hikmah khusus di balik suatu peristiwa tidak selalu dapat diketahui manusia.

Di sinilah iman seharusnya melahirkan kasih sayang, bukan tuduhan.

Orang tua yang merawat anak berkebutuhan khusus mungkin menghadapi kebutuhan biaya, waktu, tenaga, dan dukungan emosional yang tidak ringan. Mereka membutuhkan pengertian, layanan yang memadai, dan lingkungan sosial yang tidak diskriminatif.

Sementara itu, orang tua yang berjuang mencari biaya sekolah juga memikul tanggung jawab yang besar. Mereka ingin anaknya memperoleh pendidikan yang layak, tetapi kemampuan ekonomi terkadang membatasi pilihan.

Kita tidak perlu membandingkan siapa yang perjuangannya paling berat. Yang lebih penting adalah membangun masyarakat yang bersedia membantu setiap keluarga sesuai kebutuhan dan kemampuannya.

Kesulitan Bukan Selalu Hukuman, Kemudahan Bukan Selalu Kemuliaan 

Salah satu kekeliruan dalam memahami kehidupan adalah menganggap bahwa orang yang hidupnya mudah pasti sedang mendapatkan tanda keridaan Allah, sedangkan orang yang hidupnya penuh kesulitan pasti sedang menerima hukuman.

AlQur’an memberikan penjelasan yang lebih mendalam. Dalam QS. Al-Anbiya ayat 35, Allah menyatakan bahwa manusia diuji dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dengan demikian, kesulitan maupun kenikmatan dapat menjadi bagian dari ujian kehidupan.

Orang yang hidup dalam keterbatasan diuji melalui kesabaran, ikhtiar, dan kemampuannya menjaga harapan. Orang yang memiliki kelapangan diuji melalui rasa syukur, tanggung jawab, dan kesediaannya berbagi.

Orang yang belum memiliki anak dapat diuji melalui penantian dan tekanan sosial. Orang yang memiliki anak diuji melalui tanggung jawab pengasuhan dan pendidikan. Orang yang memiliki ilmu agama diuji melalui pengamalan ilmunya. Orang yang memiliki kekayaan diuji melalui cara memperoleh, mengelola, dan menggunakan hartanya.

Tentu saja, kita tidak dapat memastikan bahwa setiap penderitaan merupakan ujian dalam pengertian yang sama, atau bahwa setiap kenikmatan merupakan tanda tertentu dari Allah. Penilaian semacam itu melampaui pengetahuan kita. Yang dapat kita pegang adalah bahwa setiap keadaan mengandung tanggung jawab moral yang perlu dijalani dengan benar.

Rasulullah saw. bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta manusia, tetapi melihat hati dan amal mereka (HR. Muslim no. 2564).

Hadis ini mengajak kita mengubah orientasi hidup. Jangan terlalu sibuk menampilkan apa yang kita miliki hingga lupa memperbaiki siapa diri kita sebenarnya.

Kita boleh berusaha menjadi kaya, memperoleh pendidikan terbaik, membangun keluarga yang baik, dan mencapai kedudukan yang terhormat. Semua itu dapat menjadi sarana kebaikan. Namun, jangan sampai keberhasilan tersebut membuat kita merendahkan orang yang keadaannya berbeda.

Ketika Ilmu Agama Belum Sejalan dengan Keberhasilan Dunia 

Ada orang yang berhasil dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan karier, tetapi belum memiliki pengetahuan agama yang mendalam. Ada pula orang yang memiliki keluasan ilmu agama dan pengalaman spiritual, tetapi kehidupannya sederhana.

Kenyataan ini tidak perlu membuat kita mempertentangkan ilmu dunia dan ilmu agama. Keduanya dapat saling melengkapi ketika diarahkan kepada kebaikan.

Orang yang berhasil secara ekonomi memiliki peluang untuk membantu pendidikan, membuka lapangan kerja, membayar zakat, dan mendukung pemberdayaan masyarakat. Namun, ia perlu terus belajar agar keberhasilannya disertai kesadaran tentang halal dan haram, keadilan, serta tanggung jawab kepada Allah.

Sebaliknya, orang yang memiliki ilmu agama perlu terus memastikan bahwa pengetahuannya melahirkan manfaat nyata. Ilmu bukan sekadar kemampuan menjelaskan dalil, mengutip pendapat ulama, atau membicarakan persoalan spiritual. Ilmu juga menuntut kejujuran, tanggung jawab, kasih sayang, dan kemampuan menjaga hak orang lain.

Imam Al-Ghazali, melalui *Ihya’ ‘Ulum al-Din*, memberikan perhatian besar pada hubungan antara ilmu, amal, dan penyucian jiwa. Dalam kerangka pemikirannya, pengetahuan agama memiliki tujuan yang lebih dalam daripada sekadar penguasaan informasi, yaitu memperbaiki hati dan perilaku.

Demikian pula, Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam *Al-Hikam* mengingatkan pentingnya menjaga kerendahan hati dalam perjalanan menuju Allah.

Karena itu, orang yang mendalami agama semestinya semakin berhati-hati dalam menilai orang lain. Ia tidak sepatutnya merasa lebih suci hanya karena lebih banyak mengetahui istilah agama atau memiliki pengalaman spiritual tertentu.

Kedalaman makrifat yang benar seharusnya tercermin dalam penghambaan, akhlak, dan kesadaran akan keterbatasan diri. Kita tidak dapat memastikan kedudukan seseorang di sisi Allah hanya berdasarkan penampilan, kekayaan, atau pengakuannya tentang pengalaman rohani.

Pada akhirnya, baik orang yang berilmu agama maupun orang yang memiliki keahlian duniawi sama-sama perlu terus memperbaiki diri.

Dari Kesadaran Takdir Menuju Tanggung Jawab Sosial 

Memahami bahwa setiap manusia memiliki jalan hidup yang berbeda bukan berarti kita harus pasif menerima semua keadaan. Islam tidak mengajarkan fatalisme yang membuat manusia berhenti berusaha.

Orang tua yang kesulitan membiayai pendidikan anak tetap perlu mencari peluang, bantuan, beasiswa, dan dukungan sosial. Keluarga dengan anak berkebutuhan khusus perlu memperoleh akses pendidikan dan layanan kesehatan yang sesuai. Pasangan yang mendambakan keturunan dapat mencari pertolongan medis yang diperlukan tanpa kehilangan harapan dan martabat dirinya.

Begitu pula, orang yang memiliki kelebihan harta, ilmu, jabatan, dan jaringan sosial memiliki tanggung jawab untuk memperluas manfaatnya.  Di sinilah kesadaran spiritual harus bertemu dengan tindakan nyata.

Dalam konteks pendidikan, misalnya, kepedulian kepada sesama tidak cukup diwujudkan melalui ungkapan simpati. Kita perlu mengembangkan beasiswa, memperluas akses sekolah yang bermutu, menyediakan layanan inklusif, dan membangun sistem dukungan bagi keluarga yang menghadapi keterbatasan ekonomi.

Dalam konteks ekonomi, keberhasilan tidak cukup dinilai dari pertumbuhan kekayaan individu. Kita juga perlu bertanya apakah pertumbuhan tersebut membuka kesempatan bagi orang lain, memperkuat kemandirian keluarga, dan mengurangi kesenjangan.

Dalam konteks keagamaan, dakwah tidak cukup hanya mengajak manusia meningkatkan ibadah personal. Dakwah juga perlu menumbuhkan kepedulian terhadap anak yatim, keluarga miskin, penyandang disabilitas, orang yang kesepian, serta mereka yang sedang menghadapi persoalan kehidupan.

Dengan demikian, iman tidak berhenti pada kesadaran bahwa Allah menentukan kehidupan manusia. Iman juga menggerakkan kita untuk memperbaiki keadaan sejauh yang dapat kita usahakan.

Belajar Bersyukur Tanpa Merendahkan, Bersabar Tanpa Berputus Asa 

Ada dua sikap yang perlu terus kita pelihara.

Pertama, bersyukur atas apa yang dimiliki tanpa merasa lebih baik daripada orang lain. Jika kita memiliki anak yang sehat, bersyukurlah dan didiklah dengan baik. Jika memiliki harta, gunakanlah secara halal dan bermanfaat. Jika memperoleh ilmu, amalkanlah dan bagikanlah. Jika memiliki jabatan, jadikanlah sebagai sarana pelayanan.

Kedua, bersabar menghadapi apa yang belum kita miliki tanpa menganggap diri tidak berharga. Jika pendidikan anak belum sesuai harapan, teruslah berikhtiar. Jika kehidupan ekonomi masih terbatas, carilah jalan keluar yang halal. Jika belum memperoleh keturunan, jangan biarkan penilaian masyarakat meruntuhkan martabat diri. Jika sedang merawat anak berkebutuhan khusus, jangan merasa harus menanggung seluruh beban seorang diri.

Kesabaran tidak berarti menolak bantuan. Syukur tidak berarti berhenti berkembang. Tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.

Ketiganya justru mengajarkan manusia untuk menempatkan harapan, ikhtiar, dan penerimaan secara proporsional.

Kita juga perlu belajar mengubah pertanyaan. Daripada bertanya, “Mengapa hidup saya tidak seperti orang lain?”, mungkin lebih baik kita bertanya, “Apa yang masih dapat saya perbaiki dari keadaan yang saya hadapi?”

Daripada bertanya, “Mengapa orang itu memiliki lebih banyak daripada saya?”, mungkin lebih bermanfaat bertanya, “Apa yang dapat saya pelajari darinya, dan apa yang dapat saya syukuri dari kehidupan saya sendiri?”

Dan daripada sibuk menilai kekurangan orang lain, mungkin kita perlu lebih sering memeriksa apakah keberadaan kita telah membawa manfaat bagi mereka.

Berbeda Jalan, Sama-Sama Memerlukan Rahmat Allah 

Pada akhirnya, kita semua sedang menjalani kehidupan dengan keadaan dan tanggung jawab yang berbeda. Ada yang berjuang membesarkan anak, ada yang berjuang memperoleh keturunan, ada yang mencari nafkah untuk pendidikan, ada yang mengelola kekayaan, dan ada yang terus memperdalam ilmu agama.

Tidak semua orang diberi kesempatan yang sama, tetapi setiap orang tetap memiliki martabat yang harus dihormati.

Kita tidak dituntut memiliki kehidupan yang seragam. Kita dituntut untuk menjalani kehidupan masing-masing dengan iman, tanggung jawab, dan amal saleh.

Maka, marilah kita berhenti menjadikan kehidupan orang lain sebagai ukuran mutlak untuk menilai keberhasilan diri. Jangan jadikan anak sebagai alat membanggakan status sosial. Jangan jadikan harta sebagai alasan untuk merasa lebih mulia. Jangan jadikan ilmu agama sebagai dasar kesombongan. Dan jangan menjadikan kesulitan seseorang sebagai bahan untuk menghakimi hubungannya dengan Allah.

Barangkali, orang yang selama ini kita anggap kurang beruntung sedang berjuang dengan kesabaran yang tidak kita ketahui. Barangkali, orang yang tampak memiliki segalanya sedang memikul beban yang tidak pernah ia ceritakan. Dan barangkali, orang yang sederhana justru memiliki kekayaan hati yang belum kita miliki.

Kita tidak harus mengetahui seluruh rahasia kehidupan seseorang untuk dapat memperlakukannya dengan baik.

Cukuplah kita memahami bahwa setiap manusia membutuhkan kasih sayang, kesempatan untuk berkembang, dan ruang untuk memperbaiki diri.

Semoga Allah menjadikan nikmat yang kita miliki sebagai jalan syukur, kesulitan yang kita hadapi sebagai kesempatan untuk terus berikhtiar, ilmu yang kita pelajari sebagai jalan perbaikan akhlak, serta keberadaan kita sebagai sumber manfaat bagi sesama.

Sebab, kemuliaan hidup bukan semata-mata tentang seberapa banyak yang berhasil kita miliki, melainkan tentang seberapa baik kita menjalankan amanah dan seberapa besar manfaat yang dapat kita hadirkan bagi kehidupan.

Artikulli paraprak51% Konsumen Indonesia Batalkan Belanja Online akibat Metode Pembayaran Tak Tersedia
Artikulli tjetërUnit Usaha Syariah Danamon Raih Penghargaan di 15th Infobank Sharia Awards 2026 Atas Kinerja Keuangan yang Unggul 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini