Beranda Keuangan 51% Konsumen Indonesia Batalkan Belanja Online akibat Metode Pembayaran Tak Tersedia

51% Konsumen Indonesia Batalkan Belanja Online akibat Metode Pembayaran Tak Tersedia

36
0

NERACAONLINE – Sebanyak 51% konsumen Indonesia mengaku membatalkan pembelian online dalam tiga bulan terakhir karena metode pembayaran yang diinginkan tidak tersedia. Persentase tersebut menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara, mencerminkan tantangan pelaku usaha dalam menyediakan sistem pembayaran yang sesuai dengan preferensi konsumen.

Temuan tersebut terungkap dalam Xendit Ecommerce Payments Momentum Report 2026 yang dirilis Xendit, penyedia infrastruktur pembayaran, bersama Cube, perusahaan intelijen pasar ecommerce. Laporan tersebut menggabungkan data transaksi Xendit dengan survei terhadap 6.000 konsumen di enam negara, termasuk 1.000 responden di Indonesia.

Presiden Xendit, Nazim Ali mengatakan, perubahan perilaku konsumen menuntut pelaku usaha untuk menyesuaikan pilihan pembayaran dengan kebutuhan pelanggan. Ketersediaan metode pembayaran menjadi salah satu faktor yang menentukan keberhasilan transaksi di platform digital.

“Kunci­nya bukan sekadar menyediakan berbagai metode pembayaran, tetapi juga memahami tren penggunaan dan pertumbuhan metode pembayaran, serta peluang bisnis yang mengiringinya,” ujarnya.

Di tengah perubahan tersebut, penggunaan pembayaran digital secara real-time terus meningkat. Data Xendit menunjukkan, transaksi menggunakan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) tumbuh 142% pada periode Januari 2025 hingga April 2026. Pertumbuhan ini melampaui transaksi kartu kredit yang meningkat 83% pada periode yang sama.

Sementara itu, transfer bank diperkirakan digunakan dalam 52% dari total pembelian yang dilakukan responden survei. Adapun dompet digital masih menjadi metode pembayaran yang paling banyak digunakan, yakni dalam sekitar 60% pembelian responden.

Sebanyak 70% responden Indonesia juga mengaku menggunakan dompet digital untuk sedikitnya separuh pembelian mereka. Angka tersebut menjadi yang tertinggi di antara enam negara yang disurvei. Sejumlah pemain utama di pasar ini meliputi GoPay, OVO, DANA, dan ShopeePay, tanpa satu merek yang mendominasi.

Transaksi Digital Menggeser COD

Peralihan ke pembayaran digital turut terlihat dari menurunnya penggunaan metode pembayaran tunai saat barang diterima atau cash on delivery (COD). Sebanyak 40% responden Indonesia mengaku kini jauh lebih jarang menggunakan COD dibandingkan setahun sebelumnya. Angka tersebut merupakan yang tertinggi kedua di Asia Tenggara setelah Thailand sebesar 45%.

Meski demikian, COD masih digunakan dalam sekitar 40% dari total pembelian responden. Namun, kontribusinya terhadap nilai transaksi ecommerce relatif lebih rendah.

Laporan tersebut juga mencatat, insentif berupa diskon atau cashback menjadi alasan utama konsumen di enam negara yang disurvei untuk beralih ke metode pembayaran lain. Faktor ini lebih berpengaruh dibandingkan kecepatan pengembalian dana maupun keamanan pembayaran.

Preferensi pembayaran di Indonesia juga berbeda antarwilayah. Megatix, platform penjualan tiket yang menjadi mitra Xendit, mencatat konsumen di Jakarta lebih banyak menggunakan virtual account, sedangkan transaksi di Bali didominasi kartu pembayaran internasional.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa penyediaan metode pembayaran perlu mempertimbangkan karakteristik konsumen dan pasar yang dilayani. Di sisi lain, tidak tersedianya metode pembayaran pilihan dapat membuat pelaku usaha kehilangan potensi penjualan.

Penjualan Ecommerce Kembali Tumbuh

Tantangan tersebut muncul ketika aktivitas perdagangan elektronik kembali meningkat. Penjualan di Shopee, Lazada, dan TikTok Shop, tiga platform ecommerce terbesar di Asia Tenggara, naik sekitar 33% pada kuartal I-2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, setelah pertumbuhan melambat pada 2024.

Seiring meningkatnya transaksi online, kesiapan infrastruktur pembayaran menjadi salah satu aspek penting bagi pelaku usaha untuk mengoptimalkan konversi penjualan.

Xendit menyebut, perusahaan telah memiliki lisensi sebagai penyedia layanan akuisisi QRIS sehingga pelaku usaha dapat menerima pembayaran melalui QRIS menggunakan layanan Xendit tanpa harus menunjuk bank lain sebagai penyedia layanan akuisisi.

Laporan tersebut juga menyoroti meningkatnya kebutuhan pelaku usaha terhadap sistem pembayaran yang terhubung langsung dengan jaringan pemrosesan transaksi atau direct-to-rail. Sistem ini dinilai dapat meningkatkan visibilitas data transaksi, menyederhanakan rekonsiliasi dan pengembalian dana, serta membantu pengelolaan pembayaran dan mitigasi risiko penipuan.

Selain digunakan di dalam negeri, QRIS juga mendukung transaksi lintas negara melalui integrasi dengan PromptPay di Thailand dan DuitNow di Malaysia. Laporan tersebut memperkirakan sistem pembayaran real-time di Asia Tenggara akan semakin mengarah pada model jaringan regional pada 2027.

Di sisi lain, perubahan perilaku konsumen tidak hanya terjadi dalam pembayaran, tetapi juga dalam pencarian produk. Di Asia Tenggara, sebanyak 53% konsumen menggunakan kecerdasan buatan generatif atau AI generatif untuk menemukan produk, sedangkan 78% memanfaatkannya untuk mencari informasi dan membandingkan produk sebelum membeli.

Angka tersebut melampaui penggunaan mesin pencari yang mencapai 74% dan situs ulasan produk sebesar 72%.

Temuan ini memperlihatkan bahwa persaingan ecommerce semakin ditentukan oleh kemampuan pelaku usaha mengikuti perubahan perilaku konsumen, mulai dari pencarian produk hingga penyelesaian pembayaran. Tanpa pilihan pembayaran yang sesuai, peningkatan kunjungan dan minat belanja berpotensi tidak berujung pada transaksi.

Artikulli paraprakMaybank Indonesia Gandeng NIUM, Tarif Transfer Lintas Negara US$2,5 per Transaksi
Artikulli tjetërJangan Ukur Kehidupan Orang Lain dari Apa yang Mereka Miliki

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini